Melangkah pasti !!!
| sumber : google.com |
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bagi orang yang ingin berusaha dengan diringi do’a kepada sang khalik.
Terlahir sebagai keluarga yang serba kekurangan, Sano biasa ia dipanggil oleh teman - temannya merasa ia harus mengubah keadaan keluargannya menjadi lebih baik lagi.
Anak pertama dari pasangan Suami istri yang bernama Yadi dan Ine dan dua adik perempuan ini mempunyai tekad yang sangat gigih.
Sano sejak kecil hidup sebagai anak yang mandiri. Ia harus banting tulang walau usianya baru kelas satu sekolah dasar. Hal yang paling disukai dari Sano adalah melihat orang tuanya bahagia.
Tiap hari seusai pulang sekolah Ia mengembala kambing, mencari rumput, kayu bakar dan sebagainnya. Bahkan ia sebagai seorang laki-laki mau untuk memasak nasi di tungku maupun mencuci piring. Hal ini aneh karena sebagian besar anak seusia mereka lebih suka bermain dan jajan beraneka rasa. Tapi tidak bagi Sano. Uang adalah hal yang sangat amat sulit untuk didapat.
Ayahnya yang hanya seorang buruh tani dengan bayaran tak seberapa tak cukup untuk membeli barang – barang mahal untuknnya. Ia menyadari betul keadaan ekonomi keluarganya. Ibu Sano seorang ibu rumah tangga dan kadang sang ibu juga ikut bertani disawah.
Usia Sano kian hari bertambah. Sano sangat penurut kepada orang tuannya dan sangat sopan kepada semua orang. Ia juga berprestasi saat di sekolah dasar. Sayang, nasib berat harus dilauinya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang tingkat pertama. Jarak sekolah yang jauh harus ditempuhnya dengan jarak perjalanan ke jalan raya sekitar 2 km. Barulah setelah sampai di jalan raya ia harus menunggu bus untuk mengantarnya ke sekolah. Tiap hari ia takut untuk meminta uang saku lebih kepada ayahnya. Ia kadang tidak pernah jajan di sekolah.
Uang yang diberi ayahnya kadang pas – pasan untuk sekedar naik angkot. Bahkan pernah suatu hari ia kehilangan 100 perak dan itu mengurangi nilai rupiah yang dibawanya. Ia tau, seorang laki – laki dilarang menangis, untuk itu ia berusaha meminjam temannya untuk bisa pulang. Teman Sano sangat mengakrabi Sano dengan baik. Bahkan mereka selalu menawarkan bantuan kepadanya.
Tapi Sano merasa tidak enak jika setiap saat harus dibantu oleh teman – temannya.
Sano memang anak yang disukai banyak orang, bahkan teman - teman sekolahnya juga mensupport dirinya.
Kadang Sano ingn bermain sepak bola bersama teman sebayanya selepas pulang sekolah. Tapi, ia harus mencari rumput untuk pakan kambing yang di pelihara ayahnya. Kadang Sano merasa sedih, kenapa ia harus melewati masa SMP-nya dengan penuh kesedihan.
Tapi, ia kembali bangkit karena ia tau kemauan yang keras akan membawa kepada kesuksesan. Tiap hari setelah pulang sekolah ia harus menanggalkan pakaina seragam sekolahnya dengan pakain yang lusuh dan kumal. Pakaian itu masih tetap dipakai Sano walau sudah 2 tahun lamanya. Bajunya tidak pernah gonta ganti asal nyaman dipakai sudah cukup bagi Sano.
![]() |
| sumber : google.com |
Pulang sore sudah biyasa baginya. Pernah suatu hari ia ingin memotong rambutnya yang mulai gondrong. Tapi ia dan orang tuannya tidak mempunyai uang yang lebih. Akhirnya Sano memutuskan untuk memotong rambut sendiri. Ia tidak apa – apa bila ayahnya lah yang akan memotogkan rambutnya.
Hasilnya sangat membuat Sano menangis seharian, ya walaupun Sano cowok tapi kalau udah adu mulut sama ayahnya ya tetep kalah. Sano menangis , karena potongan rambut yang dilakukan ayahnya mirip mnyerupai gaya “batok”. Karena sangat bundar dan cepak mangkok. Sano marah sama ayahnya tapi ia hanya dipendam tanpa diungkapkan rasa kesalnya itu. Ia duduk sambil memeluk kedua lututnya di depan pintu rumah saat azan magrib mulai terdengar.
Dari dalam terdengar suara anak kecil yang berkata “Kaka ayo masuk, ini sudah magrib.”Adik perempuan Sano yang pertama meminta Sano untuk memasuki rumah lalu mandi. Adik perempuan Sano bernama Lia dan Eni.
Lia adalah adik pertama Sano yang bisa dibilang pendiam. Lia lebih dekat dengan pamannya yang bernama Sana. Pamannya itu sangat dekat dengan Lia, bahkan Lia hanya mengingat pamannya ketika ia masih kecil dan sering diajaknya bermain di sebuah loteng.
Nah kalau adik yang kedua bernama Eni ini bisa dibilang sifatnya 180 derajat berbeda dengan Lia. Kenapa ???
Eni anak bungsu di keluarga Sano ini paling berani dalam segala hal. Ia gadis yang mudah bersosialisasi. Hal ini berbanding terbalik dengan Lia dan Sano. Suatu hari Sano bercerita bahwa ia pernah menyukai teman se SMP-nya yang katanya mirip artis cantik nan imut “Nabila Syakieb”. Lia hanya senyam – senyum karena ia masih anak kelas dua SD yang belum tahu apa – apa tentang cinta. Sano memang sangat mengidoalakn “Nabila Syakieb”.
![]() |
| sumber : google.com |
Memang pantas saja jika Sano mulai menyukai seorang gadis. Karena Sano juga berada dimasa remaja yang penuh duka dan tawa. Tapi sayang, Sano hanya bisa memandang gadis itu dari kejauhan. Sano takut ia akan malu bila ia mendekatinya mengingat Sano berasal dari keluarga yang biyasa. Gadis itu bernama Ratna dan berbeda kelas dengan Sano. Itu juga yang menjadi penghalang Sano untuk enjadi lebih dekat dengan Sano.
Kini Sano sudah kelas tiga SMP. Adik – adiknya pun mulai memasuki tingkat kelas baru di sekolah dasar. Ada kisah lucu dari Sano, walaupun ia merasa masa anak – anaknya waktu SD sangat tidak enak tapi ia tidak mau adik – adik ceweknya mengalami nasib yang sama dengan dia. Setiap pulang sekolah, Sano berjalan kaki bersama teman – teman cowok sedesannya. Tentu bagi seorang laki – laki itu akan menimbulkan keringat dan bau badan. Dan perlu diketahui Sano jarang mencuci kaos kakinya.
Saatnya Sano meledek adik – adiknya. Sudah ditebak Sano kalau adiknya pasti sudah menunggu di kamar Sano untuk bermain. Yah, kebetulan Sano adalah anak satu –satunya yang memiliki kamar setelah sebelumnya di rumah Sano hanya ada satu kamar dan dua ranjang yang tentu itu digunakan untuk semua anggota keluarga itu. Jadi dengan ada kamar baru itulah adik – adiknya merasa nyaman berlama – lama di dalam kamar Sano. Walaupun kamarnya hanya terbuat dari pagar bambu yang sudah lusuh dan sempit, bagi Sano itu sudah memuaskan.
Sano disambut adik – adiknya dengan teriakan anak- anak kecil yang menunggu badut akan memberi hadiah. Tapi hadiah yang diinginkan berbeda dan menyebalkan bagi semua anak – anak. Hadiah itu adalah kaos kaki Sano yang disodorkannya ke hidung adik – adikny. Mereka menjerit karena bau kaos kaki hitam kelam yang sudah lama tidak dicuci.
Baunya bagai bunga bangkai, mungkin itu ucapan yang cukup hiperbola bagi adik – adiknya. Sedikit gambaran bagaimana keadaan rumah Sano. Jangan bayangkan teralu indah ya bak istana. Karena rumahnya hanya disekelilingi oleh pagar bambu yang sudah rapuh dengan cat putih yang mulai mengelupas dari kulit bambu. Bahkan kayu untuk jendela sudah banyak yang dirayapi.
Sehingga Ibu Sano harus bolak – balik memberi minyak tanah ke kayu – kayu yang mulai digerogoti hewan kecil yang ganas ini.
Menurut sebagian orang minyak tanah dapat menghampat rayap nakal ini menjauh dari kayu – kayu. Kadang rombongan rayap pernah mematahkan satu kaki kursi sampai patah.
Dulu waktu semua anggota tidur dalam satu ranjang pernah terjadi hal yang sulit dilupakan. Saat semuanya tertidur lelap tiba – tiba ranjang tempat tidur ambruk atau amblas dan semua yang tertidur langsung bangun dan orang tua merekea hanya geleng – geleng kepala sedang anak – anakny tertawa terbahak – bahak. Pernah juga suatu malam Ibu Sano, Lia dan Eni tidur dalam satu kamar.
![]() |
| sumber : google.com |
Hal lain yang membuat takut satu kelaurga itu adalah ketika hujan lebat mengguyur bumi. Bukan karena mereka takuta akan hujan , tapi mereka lebih takut jika hujan yang disertai angin kencang itu akan merobohkan rumah kecil mereka. Pernah suatu ketika datang hujan lebat disertai gemuruh angin ke arah barat dan diiringi petir yang mengglegar.
Ketika itu waktu menunjukan jam 15.00 WIB saat semua anggota keluarga Sano berkumpul di sore hari selepas mereka pulang dari aktivitas. Dari arah timur angin bertiup sangat kencang. Semua keluarga Sano memandang gemuruh hujan disertai petir itu dari dalam rumahnya. Tiba – tiba pagar yang beralaskan bambu tua roboh dan rumah Sano kini basah diterjang air bah yang kotor bahkan pagar itu tidak layak lagi untuk melindungi rumah kecilnya.
Seusai hujan reda, Sano dan kedua orang tuannya segera membereskan sisa daun – daun yang ikut mampir ke rumahnya. Karena waktu sudah semakin sore menjelang maghrib, diputuskanlah Sano dan keluarga akan menggunakan papan kayu milik tetangganya untuk menutupi rumahnya untuk sementara waktu sampai esok hari.
Hari demi hari dirasakan Sano dan keluarganya sangat sulit, biaya yang serba kekurangan memaksa Sano harus menghentikan sekolahnya di SMP saja. Ia tak ingin menyusahkan orang tuanya, hingga akhirnya Sano memutuskan untuk pergi merantau ke luar kota.
Saat itu usianya masih sangat muda 16 tahun ia bekerja untuk menghidupi dirinya dan meringankan beban kedua orang tuanya. Awalnya Sano bertekad ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, tapi keadaan menuntutnya untuk berhenti dan merubah nasib keluarga dan adik – adikny yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
![]() |
| sumber : google.com |
Sano bekerja secara menetap bertahun – tahun di Jakarta tanpa bisa berkomunikasi dengan ayah dan ibunya walau hanya sekedar menanyakan kabar pun tak bisa dilakukkannya. Waktu itu handphone belum bisa ia beli mengingat uang gajiannya ia kirim ke kampung. Jadi Sano hanya bisa menulis surat untuk ibu dan ayahnya. Surat yang diterima dari pak pos itu sangat dinantikan oleh keluarganya. Dan adik – adiknya berebut untuk membaca surat dari sang kakak.
Pernah beberapa kali Sano pulang kampung dan saat akan kembali merantau adik – adikny yang masih kecil menangisi kepergiannya padahal hal itu hanya untuk bekerja. Tapi memang begitu keerataan antara Sano dan adik – adiknya yang sangat disayanginya.
Ini tentang pencapaian dari pengorbanan yang saya impikan dari dulu, Artikel ini berarti bagi perjalanan saudaraku Laki2 yang paling membanggakan Aku.
Brother at your side,bahwa aku memiliki engkau sebagai pelindung adik perempuanmu ini .
Affection for You indefinitely Brother.




0 Comments