![]() |
| Lift Perpusnas |
_____Cerita atau Jerit-a______
Sebuah sarana, sebuah media menjadi haluan jalan pintas tersendiri buat orang-orang yang bisa menjajalinya, menikmati fungsinya, merasakan kenyamannya dan produktif waktunya lebih terasa.
Ngomong-ngomong soal "Lift", terdapat sebuah sarana "Menaikan beban", yang kalau gak kuat-kuat dan dan gak paham taktiknya bakal kelabakan.
Terus bilang, "Gak lagi-lagi deh naik lift, atau gak mau lagi ke lantai paling ujung."
Jadi, baiknya gimana? Apa ketika naik, kita harus turun dahulu. Langkah ini cukup jadi favorite, tapi gak menyelesaikan masalah.
Nah, bagi kalian yang belum pernah berkunjung ke "Perpustakaan Nasional Republik Indonesia", jangan heran bin jangan nekad lewat tangga yah. Tapi, kalau udah gak ada jalan lagi, ya silahkan-silahkan saja. Lift ini memang gak pernah sepi, ramai terus kaya pecahan kaca bergiliran memantul ke keramik. Gak heran, banyak antrean terjadi di sepanjang lorong lift. Rasanya, adrenaline dan emosi jadi satu kalau udah menyaksikan antusiasme para pengunjung.
Ini lift apa mau jadi left. Berasa mau saya tinggalkan lift ini, tapi apa daya, posisi masih berdiri tegap di lantai 24.
Lanti dasar masih terlihat sangat kecil. Aku tidak ada pilihan lain selain menunggu dan menerobos barisan pengunjung lift. Sekilas pengguna lift perpusnas sudah seperti penghuni gerbong kereta arah Bogor dan Tanah Abang di sore hari.
Ilmu itu emang mahal dan perjuangannya kadang gak sepadan dengan lecet-lecet di badan.
Keep Strong !!!
" Lantai 5 terbuka, saya yang berada di paling depan pintu lift (dalam), sejenak keluar memeersilahkan yang mau keluar di area lantai tersebut. Saya kira ada yang mau keluar. "Loh gak ada yang keluar toh?". Tidak ada yang menjawab pertanyaan dan penawaran saya.
Ajaib betul ini lift, bisa membungkam semua yang menggunakannya. Apa ini syaratnya supaya bisa tetap comfortable di dalam lift. Iyah dengan diam saat saya berusaha bertanya spontan karena sedikit malu juga. Itu sedikit warning agar mental kuat, badan sehat, ilmu dapat dan capek penak bisa di sikat-----".
Jakarta, 15 Septemebr 2019
22:10 WIB
Lilis Setiani

0 Komentar