Perpisahan yang Lahir dari Perkenalan
Hari ini adalah hari perpisahan untuk sebuah perjalanan anak sekolah. Seperti lazimnya, bahwa di sekolah akan mengadakan pentas seni guna memberi apresiasi kepada para wisudawan dan wisudawati yang sukses menyelesaikan sekolahnya selama tiga tahun. Ini adalah moment yang spesial, menggembirakan, haru tetapi juga tersisa kesedihan. Sekolah unggulan di sebuah Desa Prototipe bersebelahan dengan sawah, lapangan dan kesan mistis dari kuburan di sisi belakang sekolah menambah nilai keramat di sekolah tersebut.
"May, besok perpisahan kelas atas, kamu ditunjuk buat ikut paduan suara kan sama Pak Burhan ?"
Hampir suara Bunga tidak terdengar oleh Maya, karena ramainya sekeliling sekolah dengan teriakan-teriakan histeris para siswanya.
Sambil menepuk bahu Maya, Bunga mengulangi kalimat yang dilontarkannya,
" May, kamu denger gak? ".
Maya yang mendapat ayunan tangan Bunga dibahu kiri mendadak kaget dan kebingungan.
"Iyah, Bung kenapa? Sorry sorry tadi aku lagi mikirin sesuatu hehhe."
Maya membalas pertanyaan Bunga dengan senyum kecilnya.
"Haduhh, jadi tadi aku tanya, Kamu ditunjuk jadi regu KUR kan?"
Bunga mencoba menjelaskan yang ke dua kalinya dengan nada yang lebih pelan dan sabar.
"Iyah, Bung. Alhamdulillah aku ikut serta memeriahkan perpisahan kelas atas. Seneng bisa berkontribusi."
"Masa, itu aja jawabanmu May, yakin gak ada yang lain?"
Ejek Bunga kepada Maya.
"Maksudmu apa Bung? yang lain yang mana emang."
Maya menyergap pertanyaan Bunga.
Bunga : "Mayaaaa !, ketika Pak Burhan nunjuk kamu dan kamu bisa ikut serta regu ini, berarti kesempatan kamu bisa mendampingi Kakak kelasmu yang sedari awal kamu kagumin bisa tercapai. Iya lan?"
Maya :"Heeem, aku gak sampai mikir sampai situ Bung, hehe. Tapi, aku berdo'a aja, semoga nanti bisa menjadi bagian terbaik memepersembahkan lagu terbaik dan performance terbaik pula."
Maya buru-buru menghentikan khayalan Bunga.
Maya, seorang siswi yang memang untuk beberapa hal mengagumi orang-orang hebat, pekerja keras dan beda dari yang lain, menjadikan dia turut masuk dalam lingkar kehidupan kakak kelasnya yang bernama Rangga.
Rangga ini terkenal dengan kerajinan dan kepintarannya di sekolah. Cara berpakaiannya yang rapi, tingkah lakunya yang sopan, gak brandal, gak kurang ajar, gak hura-hura.
Pokoknya, bagi Maya panutan banget dah kakak kelas yang satu ini. Orangnya yang ulet dan sering menjadi juara kelas pun juara berbagai perlombaan ini, membuat Maya ingin belajar banyak dari sosok Rangga.
Terkadang, Bunga dan teman-temannya, ngisengin Maya.
Kalau Maya dan Bunga berpapasan di jalan dengan Rangga, Bunga biasanya menyenggol bahu Maya. Sebagai tanda, kalau kakak kelas yang dikaguminya, barusan lewat. Tapi, Maya malah jadi salah tingkah dan terkesan malu.
Maya, hanya sekadar kagum atau lebih spesifiknya salut dengan Rangga. Rangga benar-benar sopan dan dewasa dipandangan Maya.
Hingga suatu hari, Pak Burhan memilih beberapa adik kelas, untuk bisa mewakili kelasnya dalam regu KUR yang diadakan sekolah sebagai persembahan untuk wali murid dan tak terkecuali kakak kelas mereka.
Berlatih setiap pagi dan sore, dengan pemadatan latihan sampai berkali-kali izin tidak ikut pelajaran, tampaknya itu bukan hal yang berat bagi Maya. Baginya, ,menjadi bagian dari regu KUR ini adalah pilihan dan akan menjadi sebuah pengalaman untuknya suatu hari nanti.
Bunga, teman maya yang juga sekelas dengannya selalu memberikan support untuk Maya dalam segala hal termasuk harapannya bisa memberikan hal terbaik untuk Rangga.
Tibalah pada suatu waktu, kabar baik menghampiri Bunga. Kabar baik tersebut diteruskan Bunga kepada Maya, yang jika Maya tahu, maka ini akan menjadi kado spesial bagi Maya.
Jam istirahat, Bunga menghampiri Maya yang sedang duduk di teras kelas setelah latihan menyayi pagi tadi.
"May, hari ini aku ada berita baik buat kamu. Seriusssss, ini baik banget malah dan kamu bakalan seneng dengernya."
Bunga sampai ikut mengekspresikan kegembiraannya ketika menyampaikan ke Maya.
Maya yang sedari tadi bingung segera memperjelas maksud Bunga,
"berita baik apa sih Bung. Kamu kok seneng banget, aku aja belum tentu seneng."
"Aduh, May ini aku jamin, kamu bakalan happy dengernya."
"Jadi apa beritanya Bung, coba kasih tau aku."
Maya mulai gregetan sendiri melihat tingkah Bunga.
Bunga mulai menjelaskan,
Kalau Maya dan Bunga berpapasan di jalan dengan Rangga, Bunga biasanya menyenggol bahu Maya. Sebagai tanda, kalau kakak kelas yang dikaguminya, barusan lewat. Tapi, Maya malah jadi salah tingkah dan terkesan malu.
Sekadar kagum, tidak masalah selagi bisa memberikan pengaruh yang baik dan posisitf. Jadi antara kagum dan rasa di luar kagum itu beda yah.
Maya, hanya sekadar kagum atau lebih spesifiknya salut dengan Rangga. Rangga benar-benar sopan dan dewasa dipandangan Maya.
Hingga suatu hari, Pak Burhan memilih beberapa adik kelas, untuk bisa mewakili kelasnya dalam regu KUR yang diadakan sekolah sebagai persembahan untuk wali murid dan tak terkecuali kakak kelas mereka.
Berlatih setiap pagi dan sore, dengan pemadatan latihan sampai berkali-kali izin tidak ikut pelajaran, tampaknya itu bukan hal yang berat bagi Maya. Baginya, ,menjadi bagian dari regu KUR ini adalah pilihan dan akan menjadi sebuah pengalaman untuknya suatu hari nanti.
Bunga, teman maya yang juga sekelas dengannya selalu memberikan support untuk Maya dalam segala hal termasuk harapannya bisa memberikan hal terbaik untuk Rangga.
Tibalah pada suatu waktu, kabar baik menghampiri Bunga. Kabar baik tersebut diteruskan Bunga kepada Maya, yang jika Maya tahu, maka ini akan menjadi kado spesial bagi Maya.
Jam istirahat, Bunga menghampiri Maya yang sedang duduk di teras kelas setelah latihan menyayi pagi tadi.
"May, hari ini aku ada berita baik buat kamu. Seriusssss, ini baik banget malah dan kamu bakalan seneng dengernya."
Bunga sampai ikut mengekspresikan kegembiraannya ketika menyampaikan ke Maya.
Maya yang sedari tadi bingung segera memperjelas maksud Bunga,
"berita baik apa sih Bung. Kamu kok seneng banget, aku aja belum tentu seneng."
"Aduh, May ini aku jamin, kamu bakalan happy dengernya."
"Jadi apa beritanya Bung, coba kasih tau aku."
Maya mulai gregetan sendiri melihat tingkah Bunga.
Bunga mulai menjelaskan,
"Maya Anandita Pradira,
besok tau gak, kalau yang bawa persembahan bunga itu kak Rangga. Iyah, kak Rangga....
Kak Rangga-nya kamu.
Eh, maksudnya kak Rangga yang kamu kagumin itu 😄😂😂.
Dia yang bawa bunga pada performance mars sekolah kita, dan dia pula yang akan memberikan simbol bunga tersebut ke kepala sekolah. Dan coba kamu bayangin, latihan-latihan yang sudah kita jalani selama ini ternyata membawa harapanmu se-spesial ini bukan?
Pagi tadi, Pak Burhan juga memilih kamu buat jadi bagian inti Regu KUR lagi, persis di tengah barisan bersampingan dengan pembawa bunga bucket nya. Coba kamu bayangin, itu posisi terdekat kamu sama kak Rangga, May."
Bunga sangat senang menjelaskan struktur barisan regu KUR dengan sangat detail, sedetail-detailnya.
"Iya kah Bung?, aku masih gak percaya. Jadi walaupun aku cuman kagum, tapi perpisahan ini bakal jadi kesempatan aku buat jarak sedekat mungkin dengan kak Rangga. Wah, aku jadi makin semangat buat latihan. Eh maksudnya buat nyontoh panutanku itu, si Kak Rangga.😇😇😇"
Maya sempat malu mengatakan pernyataan tersebut.
"Nah, iyah kamu bisa ambil energi positif dari Kak Rangga May, nantikan kamu ketularan pinternya dia aaahhaha."
Ledek Bunga kepada Maya.
================>>>
Hari-hari berganti, saat dimana hari perpisahan kakak kelas terselenggara.
Maya dan regu KUR-nya bersiap-siap naik panggung untuk memberikan persembahan terbaiknya. Dari balik panggung, tampak pula kak Rangga dan Kak Mita yang akan membantu Kak Rangga menyematkan bunga kepada kepala sekolah. Sesekali Maya memperhatikan dengan seksama, seorang panutan yang sudah banyak mengharumkan nama sekolahnya.
Sampai pada akhirnya, Kak Rangga menghampiri Maya.
Maya yang sedang ngobrol dengan tim regu KUR lainnya, sontak menoleh ketika namanya di panggil.
"Maya !, kamu yang namanya Maya yah?"
Tanya kak Rangga pada Maya.
Maya sampai bengong sejenak melihat Kak Rangga melihat ke arahnya.
Seakan terbentuk satu busur anak panah yang berhasil membidik tepat di kedua bola matanya.
💕💕💕💕💕
"Iyah, kak...Iyah saya Maya. Kak Rangga yah?"
Maya mencoba mencairkan suasana yang saat ini bergemelut di dadanya dengan pura-pura menanyakan nama Kak Rangga.
"Iyah, aku Rangga. Sepertinya kita sering papasan yah, tapi baru kali ini aku tau namamu. Maaf yah baru sempat kenalan hari ini. Dan disaat mau perpisahan lagi heheh."
Timbal Kak Rangga kepada Maya.
Berada dalam situasi ini, Maya serasa dibungkam ribuan senapan sampai ke tenggorokan.
Pernyataan mengenalnya pada perpisahan seolah suatu SAD ENDING yang terjadi seperti di film-film.
Tetapi, ini adalah kesempatan langka, yang harus dimanfaatkan Maya dengan sebaik mungkin.
"Iyah Kak, sepertinya aku yang sering lewatin kelas kakak. Karena memang, kelasku sering nomaden setiap minggunya. Kakak selamat yah, kakak jadi juara terbaik lagi."
Maya mencoba melontarkan ucapan selamat dengan santai kepada Kak Rangga berkat prestasinya meraih juara pertama dalam ujian akhir sekolah.
"Wah, terimakasih banyak yah buat ucapnnya. Aku masih belajar juga kok. Kamu juga yah, rajin belajarnya. Setahun lagi kamu bisa nyusul kakak hehe. Owh iyah, nanti pas naik ke atas panggung. Aku yang bawa bucket dibantu sama kak Mita. Cuman yang kasih langsung ke kepsek adalah aku. Nah, barusan aku di kasih tau, kalau Maya yang nanti sebelahan sama kau pas di barisan depan. Nanti aku minta tolong ke kamu yah, microphone yang aku pegang saat aku selesai membaca puisi, jangan kamu taroh di tempat mic, tapi kamu pegang yah. Karena alat yang biasa buat naruh mix ternyata kendor. Dan aku takutnya, microphone jatuh malah acara berantakan."
Maya yang mendengar kalimat tersebut, dengan cepat meng-iyakan permintaan Kak Rangga.
"Iyah, kak sebisa mungkin nanti aku membantu dan menghampiri uluran tangan kakak."
Maya tampak malu dan rasa senangnya tidak bisa di sembunyikan.
Pak Burhan datang dan melakukan breafing kepada regu KUR pun termasuk kepada Rangga, Mita, Bunga, Maya dan teman-teman lainnya. Setelah selesai breafing, mereka berdoa dan dilanjut berjalan satu per satu naik keatas panggung.
Sementara MC memanggil nama siswa siswi regu KUR yang tampil, mereka berjalan menuju panggung menata barisan di panggung tersebut dengan rapi.
Musik pengiring pun dimainkan dan suara regu KUR bersahutan. Sampai tiba di puncak lagu, Kak Rangga membacakan puisi kepada semua guru-guru dan setelah itu ia mengulurkan microphone ke Maya.
![]() |
| google.com |
Maya yang mendapat uluran microphone, begitu lega karena pesan kak Rangga bisa terlaksana dengan baik. Dan kak Rangga memberikan kode termanis kepada Maya, dengan senyuman dan kedipan mata yang begitu berwibawa.
Rangga berjalan menuju kepala sekolah, Maya dari panggung melihat Rangga tanpa berkedip sembari melantunkan lagu tanpa henti.
Akhirnya acara perpisahan berjalan lancar. Regu KUR berkumpul kembali di belakang panggung, dan mengucapkan syukur atas keberhasilan mereka. Rangga kembali menghampiri Maya.
"Maya, terimakasih banyak yah, sudah bantu aku tadi, karena posisi aku ada di pusat, jadi sekali aja aku salah meletakan mic, pasti acara akan sedikit terganggu. Karena memang, insiden kendornya alat buat naruh microphone diluar rencana kita semua. Sekali lagi terimakasih yah Maya :)."
Senyum lebar Rangga menghiasi wajahnya.
"Iyah kak, semua karena kerjasama tim regu KUR kok Kak.
kakak hebat. Aku salut sama kakak. Semoga setelah ini, kakak bisa terus berprestasi yah kak."
Maya terang-terangan mengutarakan ke-kagumannya kepada Rangga.
"Kamu ini, iyah terimakasih buat do'anya yah May. Sayangnya, kenapa kita baru kenal sekarang yah. Sepertinya kamu orang yang keingin tahuannya besar banget. hehe."
Sepertinya memang waktu begitu tepat pada saat itu. Tapi, bukan berarti cocok dan sejalan.
Maya yang mengagumi Rangga, beryukur bisa kenal dan menyapa Rangga.
Sementara Rangga juga senang menjadi partner kerjasama selama acara perpisahan berlangsung.
=================>>
Andai saja waktu bisa dipahami dengan baik, tentu Maya akan lebih termotivasi selama menempuh pelajaran yang sulit dipecahkan. Mungkin, Maya bisa belajar dari Rangga dan sebaliknya. Finally, Rangga mengucapkan perpisahan kepada Maya.
"Maya, sukses selalu yah. Semoga kita bisa bertemu lagi setelah kamu lulus nanti OK."
Maya yang sempat berkaca-kaca, menjawab Aamiin dengan penuh do'a di hatinya. Sembari ia juga mengucapkan perpisahan kepada kak Rangga.
"Iyah kak Rangga." :)
Sampai akhirnya mereka berpisah untuk pertama kalinya memulai sebuah perkenalan.
![]() |
| google.com |
Suatu hal yang mungkin sedikit terlambat yang mengesankan bagi Maya. Semoga kisah tersebut adalah kenangan baik selama Maya menempuh pendidikan di Sekolah Prototipe. Siapa yang tau kalau suatu waktu nanti, mereke dipertemukan kembali.
Just DU'A yang menjadikan jarak sejauh ribuan mill menjadi sejenggak jari. Semoga mereka selalu bahagia menjalani kehidupannya masing-masing.
Jawa Tengah, 7 September 2019
23 :42 PM
Lilis Setiani
Dari sebuah kisah yang sama pada masa lampau. :)



0 Komentar