Subscribe Us

Advertisement

Pada suara alam, teduh di pentas ke Agungan Tuhan


Karena bagiku, mencari sudah tentu harus menemukan.
Tapi ternyata, saat melihat kenyataan?
Pendangan lurus berubah jadi kelokan sepanjang aral..
Usiaku dan semua yang sudah dilalui
Mendadak jadi keadaan yang membisu, seperti hutan berhantu..
Ada saat dimana aku begitu kuat memegang niat..
Ada saat dimana kau rapuh melepaskan semua yang aku mau..
Bagiku, ini yang dinamakan hidup, berteman dengan banyak hal..
Tertawa kepada diri sendiri, menghilang saat di banyak kerumunan..
Ini unik..

Aku sendiri bisa merasakan bahwa, manusia itu ada untuk saling mengomentari,
Perihal keadaan, kesehatan, keuangan, kebahagiaan atau bahkan tentang hidup ini.
Lucu, kadang terbesit ingin sekali rasanya jadi awan..
Memantau dari kejauhan jutaan manusia sibuk dengan dunianya..
Sibuk dengan rencananya yang bahkan ia lupa akan kemana setelah dunia ini gelap mata..
Aku mencoba berlajar, tapi sering kali cobaan yang datang tak juga jadi pelajaran..
Aku berkata, tapi yang aku katakan justru menjadi tuntunan lisan untuk lebih bijak menjaga bahasa..
Aku tidak memaksa, tapi kadang paksaan di seputaran dunia menjadikanku orang yang tidak rasional..


Bayangan keretakan sebuah rute jalan seakan ikut menyambar..
Hei, mana ada orang yang selamat dari omongan manusia..
Semuanya adalah pondok peraduan yang seharusnya kembali kepada Tuhan..


Kalau besok selalu jadi perbaikan, maka hari ini kau anggap apa?
Setelah kemarin kau melakukan janji dan perbuatan yang sama..
Kenapa aku selalu berlindung di tepi lemahnya lupa manusia?
Tolong, apa yang kamu lakukan harus bernilai ke masa depan yang penuh keabadian..
Bukankan itu cita-cita terbesar kita?
Aku ingin menjadi manusia yang punya dua sisi pola perhatian dalam pemikiran..
Dimana untuk duniaku saat ini, dan duniaku saat nanti secara seimbang..
Itulah mengapa pagi dan petang selalu hadir bergantian..
Agar kiranya, aku yang bermain nyaman, ingat akan gelap yang siap menghantar kerinduan...
Pada suara alam yang meleburkan kelelahan, 
Juga teduh panggung di pentas ke Agungan Tuhan.





Jakarta, 21 Maret 2020
15:37



Lilis Setiani

Post a Comment

0 Comments