Subscribe Us

Responsive Advertisement

Advertisement

Aku telah menulisnya untuk diriku sendiri [Beropini (46)]


Pagi. 
Semua ringkasan ini aku mulai pagi hari pada jam 03.48 WIB saat sayup-sayup suara dari mimbar-mimbar masjid terdekat mulai melantunkan ayat suci sebelum dikumandangkan adzan subuh nanti.

Aku memulainya dengan "ekpektasi".
Dalam serangkaian jalan hidup, kita akan dihadapkan pada ekpektasi dan realita. Ekpektasi sama halnya dengan semua apa-apa yang ingin kita lihat hasilnya sama dengan yang kita mau. Sementara realita kebalikannya, hasil yang kita mau belum tentu selaras dengan tindakan yang ditunjukan secara nyata.




Aku kira seseorang tidak akan berubah dari habit sebelumnya. Namun dugaanku meleset, seseorang itu mampu berubah hanya dengan waktu. Semua yang aku lihat nyatanya kadang tidak sesuai harapan pun atau aku yang berlebihan dalam menaruh harapan itu sendiri.


Dibentak. Mungkin itu hal yang tabu, tapi aku tidak siap dengan tindakan ini dan aku paham karena tekanan kondisi saat itu. Tapi gadis kecil berumur 5 tahun yang ada di dalam diriku memberontak, menyedu air mata, mengecewakan sekali (ungkapnya).

Aku memiliki diri kecilku sendiri, saat aku dibentak, diabaikan tidak diperhatikan makan ia akan muncul dalam memoar yang lama. Diriku dalam sosok anak kecil ini, memberontak dengan sangat.

Aku berekpektasi kamu akan lembut dalam ucapan, bertindak selaras dengan kebiasaan. 
Tapi, manusia tetaplah seorang manusia. Ia bisa marah, bisa pula mengabaikan. Aku sedikit kecewa ketika aku mengingatkan solat, sedikit kau abaikan.

Aku sedikit mengambil kecewa saat engkau memilih kesenangan dunia dengan teman dibandingkan setitik nasihat orang terkasih. 

Aku sedikit mengambil kecewa, saat semua hal kau jadikan seakan akan aku hanya beban. 

Pada saat itu aku merasa untuk pertama kalinya memikirkan masa yang panjang dan rumit. Sebuah bergulatan berbagai pertanyaan, "bagaimana kalau aku memutuskan hanya seorang diri, siapa saja yang akan dikecewakan?". 

Tapi bagaimana dengan aku yang merasa "sepi seorang diri" tanpa seseorang di kehidupan. Apakah akan menjadi lebih baik?

Aku tidak suka asap rokok, tapi kau mempertontonkan. Aku tidak suka kamu meninggalkan solat, tapi kau kadang melupakan nasehat.



Sebenarnya aku hanya sedang berekspektasi soal diriku disemua aktor yang ada dalam tubuhmu.

Tulisan ini aku hanya menitipkn pesan tanpa menyebutkan nama orang.


Posting Komentar

0 Komentar