Menerima kenyataan atau menelan kenyataan. 2 kata yang hampir serupa dalam makna. Sering kali kesiapan untuk menerima jauh lebih ringan dibandingkan menelan kenyataan. Tangis yang lahir dari tetesan air mata, bentuk permintaan maaf, berucap janji tidak akan mengulangi kenyataanya hanya berlaku saat kesadaran itu muncul. Selanjutnya, terulangi kembali kekeliruan yang sama yang selanjutnya kita mula menelan untuk menerima tanpa mendebatkannya lagi.
Fase terberat adalah ketika kita membiarkan hal buruk selalu disanjung, membiarkan ia tumbuh sedikit demi sedikit yang seolah hanya sebagai dosa-dosa kecil. Kau tidak akan merasakannya sampai menggunung seperti apa kelak di pertunjukan-Nya.
Tidak ada lagi emosional yang terlalu dalam, tidak ada lagi ungkapan kekecewaan yang terlampiaskan, ia hanya mulai bersabar dan berdoa setiap saat. Bukankah diam adalah sebaik-baik dalam menetapkan batasan. Kita tidak bisa merupak hati manusia, semua itu milik-Nya. Lantas aku mulai meminta kepada-Nya, bahwa aku tidak akan kalah dan menyerah. Aku tidak akan membiarkan ia dalam kelalaiannya.
Aku pertegas sekali lagi, aku tidak akan menghindari lahirnya juga batinnya, aku akan melawan sisi buruk dalam hati dan pikirannya.
Aku mulai sadar bahwa segala hal perlu dipertaruhkan dengan menelan kenyataan. Tidak ada jalan lagi untuk mundur, pun jikalau sudah diluar kuasaku, maka hanya Tuhanku tempatku mengadukan segala asa juga meminta jalan terbaik dari-Nya.
Ujian itu ragam bentuknya, namun menelan kenyataan adalah yang paling menyakitkan bagi manusia. Bersyukurnya, pondasi dan tujuan baik itu masih ada, tidak lagi sekedar tulisan tapi akan kami realisasikan. Semoga usiaku panjang untuk menemani semua proses pembelajaran ini.

0 Komentar