Aku mulai menyukai dingin.
Entah sejak kapan dimulai perasaan ini, namun ketika kabut berselimut embun di pagi hari rasanya sangat kuat untuk menjernihkan fikiran yang cukup kacau.
Hanya ada hidangan sarapan dan teh hangat yang wangi tentu dengan tambahan gula di dalamnya agar lebih manis.
Bentangan luas hamparan langit dan bumi yang berjarak adalah anugerah Tuhan yang tidak bisa tergantikan. Aku sesekali menyeruput teh hangat itu, menekuk ke dua kaki sejajar dan kepala direbahkan ke lutut beberapa kali.
Pada situasi ini, ketenangan telah di dapat, berserah telah dilakukan dengan hati yang penuh kebebasan.
Aku telah menjadikan ini sebagai momen refleksi diri. Aku menyukai ruang hampa tanpa suara, au menyukai kedamaian.

0 Komentar