Subscribe Us

Responsive Advertisement

Advertisement

ORIGAMI ❤



❤Assalamu'alaikum Readers Fillah,,

Postingan kali ini tentang cerpen ke -5 Gua yang berjudul "Origami ",,
Jadi ini adalah waktu luang yang gua manfaatin buat bikin origami..eh ternyata dari origami ini lah ada kecintaan pada kreatifitas berupa hiasan kamar tidur yang amajing...hehhe



Sayangnya, sekarang karena kamar origami gua lama ditinggalkan pemiliknya yaitu Gua. Jadi alhasil semua origami yg gua buat di beresin Ayah karen cat ulang tembok penyebabnya.. Tapi masih still Love with it Kok..

sooo,,, Yukk Baca dan tinggalkan Komentar yah, untuk Post Berikutnya.. :) :)

Salam damai semesta Kawan dan terus lakukan hal-hal positif yah Sistaa...

"ORIGAMI CINTA " 

“Ini kan hari jadian kita Den, kenapa kamu gak telephone aku sih? Kamu sibuk dengan kerjaan kamu atau kamu lupa.” Ucap Ranti seraya menangis di pojok jendela memandangi bunga yang mekar.


Hari ini tanggal 10 Desember adalah hari jadian antara Deni dan Ranti yang ke 2 tahun. Sudah dua tahun mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Usia Deni  dua tahun lebih tua dari usia Ranti. Mereka bisa menjalani hubungan dengan mulus tanpa ada hambatan, tapi suatu ketika cobaan mulai datang menguji kesetiaan mereka.

Di tengah kesendirian Ranti menunggu telephone dari Deni, tiba – tiba terdengar suara orang yang mengetuk pintu. Segera Ranti membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang ke rumahnya. Di bukanya pintu itu dan didapati seorang laki – laki seusianya datang membawa seikat bunga mawar putih dengan diselipkan sepucuk surat berbentuk hati.

Ranti mengira laki – laki itu adalah Deni. Setelah laki – laki itu menegakkan kepalanya dengan topi berwarna biru muda kepada Ranti ternyata dia adalah tukang pos. Hemmm... Kini Ranti benar – benar di buat menangis oleh ketidak perhatian Deni padanya.  Ranti sempat berharap laki – laki yang mengetuk pintu rumahnyaa adalah Deni. Tapi pupus sudah harapannya.

Ranti tertegun dan menelan ludahnya, ia sedikit melamun lalu petugas pos itu membuyarkan lamunannya “ Maaf ini benar dengan mba Ranti ?’’
Sontak Ranti kaget dan membalas pertanyaan petugas pos dengan senyum ciut di bibirnya “ Iya bener, ada apa ya Mas?”. Ranti memanggil laki – laki itu dengan sapaan “mas” karena laki – laki itu seusia dengannya.





   “ Gini mba, saya ada kiriman paket bunga bunga untuk mba Ranti. Kata orang yang mengirimi paket bunga ini minta maaf. Mohon diterima mba dan tanda tangani di dini.” Petugas pos tersebut memberikan bunga kepada Ranti beserta buku kecil lengkap dengan bolpoint kepada Ranti untuk ditandatangani sebagai bukti penerimaan.

            Ranti segera menandatangi buku kecil yang disodorkan kepadanya. Lalu buku itu dikembalikan kepada petugas pos di hadapannya. “ Terimakasih mba Ranti, permisi?”

“ Iya mas terima kasih juga atas antaran bunganya.”
            Petugas pos itu menaiki sepeda motornya lalu menganggukan kepalanya kepada Ranti dengan senyum untuk melajukan sepeda motornya. Kini Ranti menatap bunga di tangannya, dilihatnya petugas pos itu sudah jauh dari pandangannya. “ Bunga yang cantik, mawar putih andai ini bisa di berikan langsung si pengirim .”

            Ranti masuk ke rumah tak lupa pula pintu depan ditutup. Mengingat hari masih pagi ya sekitar jam 08.00 WIB, dan hari itu adalah hari libur. Jadi Ranti berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dibaringkaan tubuhnya diatas kasur busa berukuran kecil, dengan hari riang ia membuka surat hati itu “ Surat dari siapa yah? semoga saja dari Deni.”






Tebakan Ranti benar, seikat bunga dan surat hati itu dari Deni. Ia membaca surat itu yang berisi pesan untuknya.


                 “ Den, aku tau kamu sibuk dengan kerjaan kamu dan ini resiko buat aku yang mempunyai pacar yang sibuk dengan kerjaan. Andai pacar aku juga masih kuliah pasti banyak waktu tapi udahlah Deni juga bekerja karena ia lulus sarjana dengan nilai terbaik. Harusnya aku bersyukur memiliki pacar yang pekerja keras. Ya Alloh, terimakasih Engkau telah memberiku seorang anak adam yang bisa menjagaku.” Ranti menghela nafas perlahan melepaskan nafas di dadanya yang terasa sesak.

                 Ranti meletakan bunga mawar putih di vas yang berdiri di meja riasnya. Dia mengambil handuk yang terletak di gantungan dinding kamarnya. “ Mending mandi deh, kalau aku memikirkan hal ini, cuma bikin pusing. Mungkin aku yang harus bisa lebih dewasa kali yah.”


                 Ranti berjalan menujuju kamar mandi dengan berjalan sedikit malas – malasan. Ibu Ranti sudah mengetahui hubungan Ranti dengan Deni. Beliau juga setuju dengan hubungan mereka karena Deni yang bisa membuat Ranti lebih baik akhir – akhir ini. Keperibadian Deni yang sopan, cerdas dan dewasa ini pula yang membuat ibu Ranti percaya kepada Deni.

                 “ Ranti, mandinya jangan lama – lama, Ibu mau ke pasar dulu sama ayah kamu ya. Kalau mau makan udah Ibu siapkan di meja makan”. Terdengar Ibu Ranti memberi pesan kepadanya. “ Iya Bu, nih juga udah selesai.” Ranti keluar menemui Ibunya. “ Ibu sama Ayah mau beli apa ke pasar pagi – pagi?” Tanyanya kepada sang Ibu.
                 “ Ibu mau beli keperluan bayi Ran, kemarin tetangga kita Mba Jannah melahirkan. Jadi Ibu sama Ayah mau beli hadiah untuk Mba Jannah terus langsung ke rumahnya. Kamu tak tinggal sendirian  yah”. “ Owh iya ya Bu, salam buat mba Jannah ya Bu dan selamat atas kelahirannya.”
“ Iya, Ya udah Ibu berangkat dulu yah?”
“ Loh katanya sama Ayah, terus Ayah mana Bu?”
“ Itu ayah sudah di depan lagi manasin motor.”
“ Ya udah bu, hati – hati.”






Sumber : Google.com
Ranti kembali ke kamarnya, ia membuka jendela kamar untuk menghirup segarnya udara pagi. “ Pagi yang indah, tapi sayang Deni...... Ah udahlah”. Terdengar dering handphone berbunyi. Telephone masuk dari Deni ternyata. Ranti lalu mengangkat telephone itu.

Ranti : “ Hallo, Den?”
Deni  : " Iya sayang, kamu lagi apa? Kamu udah terima bunga dari aku kan?”
Ranti  : “ Hem, aku abis mandi, udah kok bunganya udah aku terima. Kamu sibuk banget  apa, sampe – sampe gak bisa nganter bunga sendiri. Lagian ini kan        hari libur, mestinya kamu ada waktu donk.”



Deni  : “ Gini sayang, kamu kan tau aku bukan anak kuliahan lagi. Aku udah kerja
dan banyak tanggung jawab. Kamu harus ngertiin donk?”
Ranti : “ Iya kau tau yank, tapi aku juga pengin kamu ngertiin aku. Ya udah, aku
ga papa kamu gak ngasih bunga langsung ke aku. Tapi kamu janji yah sore
ini dateng ke rumah.”
Deni  : “ Itu yang mau aku sampein sayang, aku mau ngasih tau kalau aku juga gak
bisa dateng. Ternyata sore ini ada pertemuan dengan client. Aku ngerti pasti
kamu marah, makanya aku mau ralat pesan aku di surat tadi.”
Ranti  :  “ Kamu ..... ih, aku tuh bingung yah sama kalu. Aku pikir kamu kasih info
yang nyenengin aku ke, tapi malah ini bikin aku BT. Deni.. aku harus sesabar
apa coba. (Ranti sembari menangis )
Deni : “ Ok. Denger sayang , aku akan mengganti hari ini dengan hari yang lain.
Kamu percaya yah sama aku. Ini Cuma masalah waktu”. ( Deni mencoba
menenangkan suasana hati Ranti ).          
Ranti : “ Terserah kamu....!!! ( Balas Ranti dengan nada marah kepada Deni).
Deni  : “ Ya udah, sekarang kamu jangan nangis donk, aku jadi gak enak sama kamu.”
Ranti : “ Aku hapus air mata ini, dan kamu boleh menutup telephonnya.”
Deni   “ Sayang, maafin aku. Aku sayang sama kamu kok. Ngertiin yah..
Dah sayang.”
Ranti  :  Iyah”. ( Suara Ranti terdengar lirih menjawab permintaan Deni.)
Deni    “ Tut..tut.. (Menutup telephone).


Ranti meletakan HP nya di atas meja ia melempar tubuhnya ke bantal sambil menangis terisak- isak. Rupanya pagi yang cerah kali ini tidak senada dengan suasana hatinya. Ranti berusaha menenangkan hatinya dengan mengotak – atik laptop yang berada di atas mejanya. Ranti memiliki cara sendiri untuk menghilangkan kejenuhan. Ia sering membuat catatan kecil di blog pribadinya. Dan selalu banyak yang memberi like pada setiap publikasi blognya.

Ranti bermain laptop sampai sore hari, hingga ia lupa tidak makan. Ibunya pulang bersama ayahnya. “ Assalamu’alaikum?” Sapa Ibu dan Ayahnya.

Ranti tak kunjung menjawab salam dari orang tuannya karena sibuk dengan pekerjaannya didepan laptop hingga tak mendengar salam dari orang tuanya. Ibunya meletakan tas jinjing di meja makan. Dilihatnya meja makan yang masih utuh seperti belum disentuh “ Loh, Ranti belum makan apa yah, kok ini masih bersih.” Ucapnya dalam hati.



Dari belakang ayah menepuk pundak Ibu, “ Ibu, bengong aja, kenapa?”
“ Ah, ayah ini ngagetin Ibu saja. Ini loh yah makanannya masih bersih. Sepertinya Ranti belum makan.”
“ Terus Rantinya mana Bu,?” “Sebentar ya Pak, Ibu cari di kamar.”
Ibu Ranti berjalan menuju kamarnya lalu mengetuk pintu kamar Ranti tapi tak ada jawaban. Lalu dibuka perlahan pintu kamar anaknya itu. “ Ranti..?
“ Iya Bu.” “ Kamu di panggil Ibu dari tadi nggak nyaut.” Ibunya melirik ke arah laptop yang berada di depan Ranti. “ Oalah, pantesan kamu tidak denger Ibu panggil – panggil, ternyata lagi asik mainin laptop toh.” 


“ Hehe, Maaf deh Bu, Ranti kebiasaan kalau udah ngadep laptop bawaannya ikut masuk ke dalamnya.” Ranti mencoba menjelaskan kepada Ibunya. “Terus kamu belum makan dari tadi pagi?”
“ Ibu kok tau?” “ Kamu ini, itu di meja makan masih utuh, kenapa gak makan. Ibu kan udah bilang jangan telat makan nanti sakit lagi. Kamu kenapa matanya, habis nangis?”
“ Iya Bu, nanti aku makan kok. Tadi pagi aku nggak nafsu makan. Emang mata aku kelihatan abis nangis yah Bu,?”



“ Iya Ranti sayang, Ibu bisa nebak pasti kamu habis berantem sama Deni yah? Coba cerita sama Ibu.” Ibu Ranti mengelus rambut anaknya yang bersender di bahunya.
“ Ibu hari ini kan, ahri jadian aku sama Deni ke dua tahun. Tapi Deni nggak dateng ke rumah Bu, Ia malah sibuk dengan kerjaannya. Aku kan pengin makan bareng sama keluarga kita Bu.” Terang Ranti kepada Ibunya.


“ Kamu yang sabar aja Ran, Ibu yakin Deni mengatakan hal yang terbaik buat hubungan kalian. Deni kan udah kerja dan ia juga harus betanggung jawab atas apa yang ia emban sayang”. “ Ibu kok sama ngomongnya, Deni juga bilang gitu. Makasih ya Bu, aku sekarang mau konsen dulu sama kuliah aku. Tinggal satu semester lagi aku rampung Bu.”

“ Nah itu baru anak Ibu sekarang makan sana, ayah udah nunggu dibawah.”
“ Iya Bu, kalau gitu Ranti kebawah dulu Bu.” Ranti lalu makan bersama ayahnya yang juga sudah menunggu lama di meja makan. Setelah selesai makan ia kembali ke kamar sampai larut malam ia belajar untuk ujian besok di kampusnya.

            Pagi harinya ia siap – siap pergi ke kampus, semua buku tebal telah ia tenteng untuk belajar sebentar sebelum ujian dimulai. Ia berpamitan kepada ayah dan Ibunya. Dengan menaiki motor, Ranti menuju kampusnya yang cukup jauh dari rumahnya. Selama perjalanan, HP Ranti berbunyi terus. Ia tak bisa mengambil HP di sakunya karena ia sedang mengedarai motor.

Akhirnya sampai juga ia di kampus, lalu ia mengambil HP di saku celananya. Dibukalah Hp miliknya, ternyata ada 5 panggilan tidak terjawab. Panggilan itu dari Deni, sementara 3 SMS pendek masuk ke inboknya.
            “ Ranti tadi aku telephon kamu, tapi kamu nggak ngangkat. Kamu masih marah yah sama aku. Sayang, aku Cuma mau kasih support ke kamu “ Semoga sukses ujiannya ya sayang. Aku yakin kamu pasti bisa”. ÿ ©ÿ©ÿ©
            “ Deni, aku kira kamu lupa sama jadwal ujian penting aku. Makasih yah atas dukungannya. Aku minta maaf atas sikap aku kemarin.” Balas Ranti kepada Deni.


Ranti berjalan menuju ruang ujian. Masih ada waktu 10 menit untuk belajar sebelum ujian dimulai. Ranti belajar sebentar di dalam kelas bersama teman yang lain. 10 menit berlalu, kini dosen yang menguji telah datang. Lembaran soal dibagikan ke masing – masing mahasiswa. Dengan bacaan basmallah, Ranti mulai mengerjakan soal ujian.





Bel berbunyi, dua jam ujian berlalu dan semua mahasiswa meninggalkan ruang ujian. Ranti menelphone Deni, untuk menceritakan soal ujian tadi. Ranti memang sering berbagi ilmu dengan pacarnya. Maklum pacarnya lulus dengan nilai terbaik. Tapi panggilan Ranti tak kunjung di angkat. Tiba – tiba Hp nya berdering balik, ternyata Deni menelphonnya. Lalu diangkat dengan cepat oleh Ranti.

Ranti   : “ Hallo sayang, tadi aku telephon kok nggak diangkat. Kamu lagi rest kan?
Deni    : “ Tadi aku, silent in HP nya. Aku ada kabar baik buat kamu?”
Ranti   : “ Emang apa kabar baiknya yank?”
Deni    : “ Aku sukses presentasi di depan client dan aku juga berhasil meyakinkan mereka
                untuk ikut bergabung dengan perusahaan aku.
Ranti   : “ Wah, selamat ya sayang aku ikut seneng. Terus kamu nggak tanya gimana ujian
              aku?”
Deni    : “ Iya, gimana tadi ujiannya?”
Ranti   : “ Alhamdullilah yank, tadi aku bisa. Terus kamu rencananya mau lanjutin S2 
                 kemana?”.
Deni    : “ Untuk rencana pendidikan itu nanti aku pikirin lagi. Owh yah, hari ini aku udah
pulang. Aku nanti tunggu kamu di taman yah.”
Ranti   : “ Iya aku ke situ.”
Deni    : “ Ok. sampai ketemu di taman.”
Ranti   : “ Iya. Ya udah aku otw.

Ranti mematikan HP dan memasukannya ke dalam tas. Ranti melajukan motornya ke taman untuk bertemu Deni. Sesampainya di taman, suasana sepi tak seperti biasanya yang ramai dengan orang – orang berkerumun. Banyak bunga mawar putih tergeletak di pinggir taman dengan origami cinta yang menempel ditangkai mawar putih tersebut.

Satu persatu mawar diambil Ranti, Ia melihar Deni berdiri di depannya dengan membawa 1000 origami berbentuk cinta dengan aneka warna. Origami itu telah dirangkai menjadi bentuk mawar yang sangat indah.
Ranti tertegun, “Deni kamu nyiapin semua ini untuk merayakan keberhasilan kamu?”

“Enggak sayang, kamu inget kemarin aku sengaja nggak dateng ke rumah kamu. Aku ingin membuat kejutan ini menjadi sempurna. Aku mau kamu lebih dewasa lagi. Kalau aku kerumah kamu, pasti kamu akan lupa dengan ujian hari ini.”


            “ Jadi soal kerja dengan client itu juga bohongan?” “ Kalau itu beneran yank, aku ada waktu sore hari tapi aku gunakan untuk menyusun surprise ini.”
“ Aku seneng banget, kamu udah buat pengalaman yang tak bisa aku lupain.”

“ Ranti, aku mau ajak kamu ke suatu tempat, ayo ?” Deni menggandeng tangan Ranti dengan erat . Ranti dibawa ke tebing buatan di taman yang telah disulap menjadi musim semi bunga – bunga. 
“ Mau kemana sih Den, masih jauh apa?” “ Nggak kok sebentar lagi.”
“ Ranti, sekarang kamu lihat ke bawah.” Dari atas tebing buatan itu, Ranti menghela nafas sembari melepas nafasnya. Sebuah pemandangan yang sangat cantik terlihat. Bentuk cinta © terbentuk dari ribuan origami burung dan origami hati. 
Didalam nya tertulis :                                                                                                                                                           
“ Kamu yang buat semua ini Den, tapi setau aku kamu kan nggak bisa buat origami dari kecil?” Ranti menanyakan soal ini kepada Deni.
“ Aku belajar selama seminggu buat bikin origami ini.” Deni memberi origami hati ke tangan Ranti. “ Aku tau, sejak dulu kamu suka dengan origami, aku hanya bisa membuat origami hati dan burung. Aku Cuma bisa ngasih ini di hari jadi kita Ran.”
“ Aku udah cukup dengan kejutan yang kamu kasih buat aku sekarang. Aku hargai semua kerja keras kamu. Tapi aku mau kamu tunjukin ke aku langsung, bagaimana cara membuat origami hati dan burung.”

“ Ok, siapa takut.” Jawab Deni dengan lantang. “ Eits,, tunggu dulu !!!”
“ Kenapa ?” “ Bukan Cuma saatu yah, kamu buatin aku 100 buah origami.”
Ranti menantang Deni sambil tertawa meledek. “ Kamu tega yank sama aku?”
“ Ini hukuman buat kamu atas kejadian kemarin.”

Deni mengiyakan permintaan Ranti. Deni memeluk Ranti dan berjanji akan memperbaiki semua kesalahnnya karena telah membuat Ranti menangis. Akhirnya Deni dan Ranti bersama – sama membuat origami di tebing taman. Tawa mengiasi mereka disaksikan kicauan burung yang merdu.

Sabtu, 13 Juni 2015
Lilis Setiani

Posting Komentar

0 Komentar