Assalamu'alaikum Readers Fillah,,
Balik lagi di Blogg Gua nih...
Postingan kali ini tentang cerpen Gua yang berjudul "MINDERs",, Percaya gak percaya udah 5 cerpen yg gua buat sendiri sejak 3 tahun yang lalu heheh
Sekarang2 aja Gua jarang mengelola jari jemari lembut ini ,, Tepung kali ah lembut Lis.. :)
Kepoin dikit yuh apa sih isi dari cepen Minder ini...
| SAHABAT PAP Purwokerto 2014 |
Sekarang2 aja Gua jarang mengelola jari jemari lembut ini ,, Tepung kali ah lembut Lis.. :)
Kepoin dikit yuh apa sih isi dari cepen Minder ini...
sooo,,, Yukk Baca dan tinggalkan Komentar yah, untuk Post Berikutnya.. :) :)
Salam damai semesta Kawan dan terus lakukan hal-hal positif yah Sistaa...
Sebuah pementasan seni dipertunjukan dalam perlombaan antarkelas.
MINDER ???
Buang Jauh Aja
“Poppy, ayo lah kamu yang mewakili kelas kita”. Bujuk Laras, Arga dan Meta.
“Aku gak bisa temen – temen. Kalian tau kan aku malu bila harus tampil di depan banyak orang lebih – lebih kalau aku harus naik panggung dan berbicara di microphone.” Sahut Poppy.
“Kalau kelas kita gak ada yang mewakili otomatis kita akan di hukum dan itu artinya wali kelas kita juga akan menerima malunya. Kamu kan bisa nari dan aku lihat kamu berbakat dalam. Aku yakin semua anak akan terpesona dengan penampilanmu besok Pop.” ( Laras)
“Bagaimana mungkin akau akan bisa membawakan tarian dengan baik, jika menghadap ke penonton saja aku ragu setengah mati Ras? Aku ini Cuma cewek yang kuper, dengan tinggi badan 145 cm, gendut dan jerawatan. Aku malu dilihat banyak orang.” Balas Poppy.
Tiba-tiba dari belakang muncul lah ibu guru yang bernama Ibu Septi.
“Kalian sedang ngobrol apa anak-anak. Kelihatannya seru sekali? (Tanya Bu Septi)
“Ini bu, si Poppy didaftarin ke acara pentas seni gak mau. Padahal dia jago nari loh Bu. Kita dan semua temen – temen dukung 100% pokoknya buat Poppy Bu”. Meta mencoba menjelaskan situasi.
“Betul itu Poppy??” Tanya Bu Septi dengan penuh perhatian.
Poppy mencoba membela diri. “Bener Bu. Tapi aku ada alesannya kenapa aku gak mau ikit pentas seni itu Bu.”
“Tapi Kenapa? Ibu tau betul kamu suka terhadap seni.”
Poppy mencoba menjelaskan. “ Ibu aku ini sadar diri Bu. Aku bagaimana dengan rupa dan fisikku. Mereka akan menertawakanku nanti dan aku akan jadi bahan olok – olokan mereka. Aku takut Bu. Aku akan mengecewakan semuanya.”
“Dengar Poppy, Tuhan menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan agar mereka selalu bersyukur dan memahaminya. Itu takabur namanya Poppy. Kenapa kamu menggangap dirimu seperti tidak ada artinya. Banyak diluar sana yang menginginkan seperti kamu. Kamu lihat bagaimana perjuangan tanpa lelah dari para penyandang cacat. Mereka melanjutkan hidupnya walau dalam keterbatasan fisik.” Tutur Bu Septi.
Perkataan yang disampaikan Bu Septi kepada Poppy benar – benar membuatnya menangis berurai air mata. Ia seperti manusia yang tak pernah memandang ke bawah dan yang ia lakukan hanyalah memandang ke arah atas. Ia sadar bahwa sikapnya itu merugikan dirinya sendiri.
“Ibu, Poppy minta maaf, sudah lama Poppy merasa dihujani rasa sakit dalam jiwa Poppy karena sikap orang – orang dekat Poppy. Mereka justru yang membuat Poppy down. Kejadian itu dan silih bergantinya mulut – mulut para tetangga membuat aku terpuruk Ibu.” Jawab Poppy sambari mengusap air yang jatuh dari pipinya.
“ Coba kamu jelaskan sama Ibu dan teman – teman yang lain, tentang orang yang sudah menghakimi kamu dengan sebelah mata itu sayang?” Belaian tangan Bu Septi ke rambut Poppy seakan – akan mencairkan keadaan yang sempat menyesakan hati Poppy.
Akhirnya Poppy mulai menceritakan kenapa ia terkena krisis PD alias krisis Percaya Diri.
“Ibu, waktu aku masih di kota, semua teman – teman menyanjungku dan selalu menemani aku. Hal itu didukung pula oleh status sosail orang tua aku yang menjadi pengusaha terpandang dikota itu. Tapi 4 tahun yang lalu sebuah berita buruk menghampiri keluarga aku Ibu. Ayahku tertipu oleh rekan bisnisnya dan semuanya habis – habisan digadaikan untuk memenuhi keegoisanku. Sejak itu lah, ayah dan Ibuku mengajak aku pindah ke Desa ini.
Tapi keadaan mulai berubah. Pertama wajah aku yang jarang kumanjakan ke salon kini ditumbuhi kotoran – kotoran nakal yang menutupi kulit halusku dan bahkan sampai bercak merah di sekujur pipi maupun dahi. Kedua, fisik aku sangat tidak proposional bagi sebagaian orang. Yah ! bertubuh pendek, gendut dan tak jarang aku mengeluarkan bau badan yang tak sedap.
Perubahan itu nyata terjadi, yang akhirnya semua teman ku kini berubah menjadi orang – orang yang jijik terhadap lalat berkuman. Pernah Ibu, suatu ketika sebelum aku pindah kedua kalinya ke sekolah ini, aku ditugasi untuk membaca puisi di depan anak – anak berstatus mahasiswa untuk acara tahunan sekolah. Hal yang sangat memalukan terjadi. Saat nama aku dipanggil oleh pembawa acara, aku bergegas naik ke atas panggung namun naas, Microphone yang dipasang diatas meja terlalu tinggi.
Suara ku pun tak mampu terdengar dan lebih parah lagi kayu berukir yang dijadikan mimbra menghalangi wajahku. Seorang laki – laki bertubuh tinggi, besar segera mengambil microphone dan menyodorkannya di depanku. Aku memandang wajahnya dengan menengadahkan wajahku ke atas. Aku benar – benar malu waktu itu dan akhirnya kejadian – kejadian buruk mulai mengikutiku. Setelah proses pembaan puisi selesai aku buru – buru menuruni panggung dan gubrakkkkk..!!!
Aku tersungku ke bawah meja dan tertimpa papan penghias panggung. Ya Alloh Ibu, aku malu setengah mati lalu aku tahan rasa sakit itu dan kulanjutkan ke kursi yang disediakan tapi lagi- lagi aku kena sial. Sepatu aku tersandung kabel dan aku jatuh lagi Bu. Aku lihat di sekitar aku para mahasiswa yang tertawa terbahak – bahak melihat aku. Seketika itu aku pulang Bu. Aku nangis sejadi – jadinya di kamar dan aku trauma dengan orang banyak terutama panggung.”
Ibu Septi memberi motivasi kepada anak didiknya itu. “Owh begitu yah, Ibu tau bagaimana perasaan kamu Popp, tapi itu kan masa lalu tak ada salahnya kamu memperbaiki sampul attitude kamu yang sempat robek itu. Ibu yakin kamu bisa, lihat betapa banyak orang yang mampu melakukan lebih tanpa kesempurnaan. Kamu mau diam di tempat mengingat- ingat masa pahit itu? tidak bukan?
Sekarang hapus air mata kamu dan bergegas mendaftar ke panitia. Ibu janji sama kamu, Ibu akan menjadi orang pertama yang berdiri di depan panggung memberi support buat kamu besok.”
“Iya Ibu, Poppy akan mendaftar sekarang juga.” Balas Poppy dengan senyum ciut di bibirnya. “Nah gitu sayang, itu baru namanya siswa Ibu. Sekarang Laras, Arga dan kamu Meta tolong antarkan Poppy menghadap panitia lomba.”
“Siap Ibu.” sahut Laras, Arga dan Meta serentak.
Segera mereka pergi menuju ruang pendaftaran dan menghadap panitia lomba pentas seni. Setelah mendapat dorongan dari guru dan teman – temannya, akhirnya Poppy bersemangat untuk berlatih menari lagi. Keesokan harinya, Poppy tampil dengan amazing, hiuk piuk penonton bersahut – sahutan diiringi tepuk tangan yang menambah semangat pagi itu.
Poppy berhasil membuat guru – gurunya berdecak kagum dan teman – temannya bangga telah melihat penampilan yang spektakuler dari siswa yang bisa dibilang krisis Pede ini.
Dengan penuh tangis bahagia, dipeluklah teman – temannya itu dan Ibu guru. “ Teriamkasih banyak teman – teman, ternyata selama ini aku terlalu parno dan selalu menanggapi omongan orang yang tak penting bagi hidupku. Aku janji mulai sekarang aku akan menjadi diri aku yang baru yang penuh dengan rasa optimis.”
Keharuan itu sangat terasa diantara pelukan mesra teman – temannya dan akhirnya Poppy mendapat kesempatan untuk mewakili sekolahnya di ajang Pentas Seni tingkat Naional.
Note : Dari sekian cepen yg gua publish ada diantaranya kisah nyata Gua Gess,, tebak2 aja yg mana sesuka hati deh heheh
Dan Gua mau lanjutin bikin Novel yang pernah ketunda nih,, Mohon doa nya yah Ges.. Thank you berat.. Reader Fillah..

0 Komentar