Subscribe Us

Advertisement

Mahasiswa, Pengusaha dan Ulama


Tidak ada VS antara mereka, yang ada adalah tujuan baik untuk memberbaiki.

Sumber foto : google.com

Terdapat perbedaan antara mahasiswa dengan seorang pengusaha pun dengan seorang ulama.

~** Perbedaan – perbedaan itu dilandasi oleh pola pikir, wawasan, tingkat pendidikan, luasnya pergaulan problematika masa dulu dengan sekarang, pengalaman-pengalaman dan cakrawala pandangan terhadap sesuatu yang di temui. Sebagai contoh yang akan dipaparkan berikut mengenai “kemiskinan”.





~** Seorang mahasiswa lebih mengedepankan rasa “menuntut” akan sebuah probematika sosial. Kemiskinan di suatu Negara, bagi mahasiswa adalah akibat system birokrasi pemerintahan yang tidak memegang amanah untuk bisa mensejahterakan masyarakat dan pemberdayaan potensi untuk kemajuan masyarakat. Hilir mudik berita korupsi yang sudah merajalela bagaikan jamur di musim semi inilah sebagai pertimbangan utama mengapa banyak mahasiswa yang menuntut keadilan pemerintahan.


~** Dari pola pikir seorang pengusaha,nampak jauh berbeda dengan mahasiswa. Kebanyakan pengusaha mengkaitkan sebab terjadi kemiskinan di suatu daerah atau Negara adalah kurangnya daya kreativitas, kemauan yang keras, kegigihan, pengorbanan dan keuletan dari masyarakat itu sendiri. Banyak sudah buku-buku yang menceritakan pengusaha-pengusaha sukses dari kalangan masyarakat bawah

Melalui kerja keras mereka mampu menjadi orang sukses di masa sekarang. Wajar saja, kalau motivasi-motivasi merintis sebuah bisnis bertebaran di rak-rak buku jejeran para penggiat bisnis. Dari pendapat ini, perjuangan yang tanpa mengenal lelah menjadi dasar seseorang bisa sukses atau tidak. Garis kemiskinana bisa dirubah dengan produktivitas manusianya itu sendiri.





~** Lain lagi dengan pola pikir seorang ulama. Kemiskinan yang merundung sebagian warga di suatu Negara adalah sebuah perjalanan hidup. Kaya dan miskin tidak ada bedanya, asalkan iman yang menjadi patokannya. Salah satu yang mendasari agar dalam kemiskinan kita dianjurkan untuk “sabar”

Dalam beberapa pendapat ini, seseorang dijamin tidak akan merasa susah, apabila menjalankan shalatnya secara tepat. Rezeki akan dijamin selalu ada. Hidup berkecukupan, ketenangan akan selalu menghampirinya. Si kaya hendaknya membiaskan diri untuk berbagi dengan sesama. Menyedekahkan hartanya, kelebihan rezekinya, beramal dan dengan seperti ini pemerataan akan merata.


~** Berbagai kesemrawutan yang terjadi di negara akibat tingkat kemiskinan masyarakatnya yang terus saja meningkat, menimbulkan spekulasi berbeda dari pendapat generasi mahasiswa, pengusaha dan ulama, Lalu pendapat mana yang dianggap paling benar?




Jawabannya adalah Tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang salah”. Semuanya memiliki pola pikir yang sama yang tujuannya tidak lain guna membentuk pemikiran positif atas ketidakpuasan dalam meraih kesejahteraan hidup
** Mahasiswa dengan tuntutannya kepada pemerintahan sebagai symbol dari pengejawatan masyarakat kecil yang menyuarakan hak-hak mereka. 
** Seorang pengusaha yang juga memotivasi dengan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarkat agar turut berusaha dalam tantangan global seperti sekarang ini. Dengan usaha yang maksimal dalam menggapai impian, maka sukses akan didapat. 
** Ulama yang senantiasa memberikan kesejukan pemikiran dan tindakan akan kepasrahan kepada Tuhan. Lebih mengadukan kepada Tuhan atas perkara-perkara yang dialaminya. Kembali menjadi manusia seutuhnya, fitrahnya manusia yang ada karena kuasa Tuhan. Barulah setelah itu berusaha dengan di iringi niat yang baik untuk merubah nasib.


~ Begitulah beberapa pola pikir dan pendapat sebagian orang dengan label yang mereka sandang tentang “sebab kemiskinan” di suatu Negara. Bagi kita, hendaknya menjadi pelopor untuk mendukung semua hal yang mengarah kepada “kebaikan”,”keteraturan”, dan “kemakmuran bersama.

Sumber Foto : google.com


Jakarta, 24 September 2019
07:35 WIB

Lilis Setiani

Post a Comment

0 Comments