Subscribe Us

Responsive Advertisement

Advertisement

Sharing Sesion Ahmad Rifa'i Rif'an di Griya Menulis Indonesia (Materi -3)


Hasil gambar untuk 3

Alhamdulillah, kita memasuki session ke-3, di hari Jum'at, 13 Desember 2019.

Pesan tetaplah pesan yang harus disampaikan, dan berikut kami sampaikan kepada teman-teman blog dari Kak Fai :

"Ini salah satu pertanyaan yg cukup banyak disampaikan, baik di forum seminar maupun di komunitas online: Apa action pertama yg perlu dilakukan untuk menjadi penulis?

Maka materi pagi ini saya beri judul, LANGKAH PERTAMA.

Selamat menikmati, semoga bermanfaat :)"
-- Ahmad Rifa'i Rif'an


[09:03, 13/12/2019]
LANGKAH PERTAMA

Saya tahu sebagian dari teman2 di sini ternyata sudah banyak belajar di berbagai forum kepenulisan. Sebagian juga sudah membaca banyak buku tentang teknik menulis. Sebagian bahkan secara serius mengikuti berbagai kelas menulis.

Sayangnya, dari berbagai pembelajaran tersebut, kadang tidak ada karya yg dihasilkan satu pun. Mengapa? Karena sebagian kelas menulis hanya mengulas motivasi dan teori semata, tetapi tidak mendetailkan tentang apa action pertama yg perlu dilakukan sesegera mungkin.

Maka yg saya harapkan, teman2 yg bergabung di sini tidak hanya tahu, tetapi juga benar2 melakukannya.

Lantas apa Langkah Pertama yg perlu dilakukan?

Menurut saya, 3 hal berikut yg harus sesegera mungkin teman2 lakukan. Bahkan kalau bisa, lakukan sebelum tahun 2019 ini berakhir. Sehingga 2020 benar2 bisa menjadi awal dari perjalanan baru proses kepenulisan kita.

1.    Perbaiki Media Sosial

Beberapa bulan lalu saya kirim naskah ke penerbit baru. Belum pernah sekali pun saya kirim naskah ke sana sebelumnya. Ini pertama kali saya kirim ke sana. Kebetulan tidak saling kenal dg editornya. Beberapa waktu kemudian, editornya menghubungi saya dan bertanya, “Maaf, boleh tahu akun instagramnya apa?”

Maka mulai saat ini, yuk perbaiki media sosial kita, baik Instagram, Facebook, maupun yg lain. Jadikan media sosial sebagai tempat berbagi. Karena tak bisa dipungkiri kita sudah memasuki era ini, dimana masifnya media sosial bisa menjadi nilai jual tersendiri bagi kita.

Saran saya, mulai nulis rutin di sosmed dg tulisan yg ringan, tapi bermanfaat. Saya ulang: 1. Yg ringan, 2. Yg Manfaat. Karena ini sosmed, orang2 main sosmed itu kebanyakan buat hiburan, refreshing. Jarang yg buka sosmed niatnya ingin belajar. Maka bikin tulisan2 yg ringan2 saja. Dan jangan terlalu panjang. Juga jangan terlalu pendek.

Saya punya contoh menarik tentang ini. Anda bisa lihat akun IG atau fb ibu Esther Idayanti @estheridayanti. Saya tidak kenal beliau. Kemungkinan beliau juga tidak kenal saya. Secara tidak sengaja saya baca tulisan beliau dishare oleh kawan saya. Tulisannya pendek2, satu status berisi satu pembahasan, panjangnya hanya 3-5 paragraf, selesai. Coba deh baca2.

Kita bisa ngikutin beliau. Secara rutin posting status atau caption ringan semacam itu, kalo bisa rutinkan tiap hari. Untuk apa? Banyak manfaatnya. Pertama, melatih keterampilan menulis kita. Kedua, kita terbiasa cari ide setiap hari. Ketiga, bermanfaat bagi teman2 kita karena sharing kita manfaat. Keempat, ini menjadi nilai plus saat kita hendak menerbitkan buku.

Intinya, kurangi status galau, nyinyir, dan gak jelas. Jarang kan penulis2 besar yg statusnya keluhan dan nyinyiran. Mungkin ada, tapi jarang banget.

2.    Pilih Satu Tema untuk Dibaca dan Ditulis


Mulai hari ini, tentukan 1 hal untuk kita pelajari dan tekuni setiap hari. Satu saja. Mulai dari bacaan, kumpulkan artikel atau pun buku2 yg terkait hal yg kita pilih itu. Sebanyak mungkin. Saat menulis di sosmed, fokus menulis di tema itu. Pertahankan satu bulan saja.

Untuk apa? Pertama, untuk melatih energi fokus kita. Karena untuk menulis buku nanti, kita butuh bertahan untuk fokus pada satu tema. Kalau terbiasa loncat dari satu tema ke tema lain, maka percayalah buku kita akan lama jadinya. Karena fokus kita terpecah.

Alasan kedua, dg kebiasaan itu, tanpa disadari sebenarnya kita sedang memulai latihan nulis satu buku khusus. Jika bacaan kita sudah fokus ke satu hal, akhirnya kita punya banyak referensi yg bisa kita jadikan bekal untuk menulis sebuah buku. Jika tulisan kita selalu membahas satu hal, berarti dalam rentang waktu tertentu kita punya kumpulan tulisan yg memiliki tema sama. Jika tulisan2 itu sudah banyak, kita tinggal mengumpulkannya menjadi satu, jadi deh sebuah buku.

3.    Coba Tulis, Cetak, dan Jual 1 Buku


Setelah 2 hal di atas sudah kita lakukan, target ketiga yaitu coba bikin satu buah buku. Tulis sendiri, covernya desain sendiri, cari percetakan sendiri, jual sendiri.

Mungkin ada yg nanya, “Saran ini serius mas Rifai?”

Iya, beneran, saya gak bercanda. Itu yg saya lakukan dulu saat pertama nerbitin buku. Buku pertama saya terbit 2009. Judulnya 9 Rahasia Doa Lulus Ujian. Tebalnya sekitar 60 halaman. Udah tipis, ukurannya buku saku lagi (kertas A6). Kecil dan tipis. Mengapa? Pertama, biar nulisnya gak lama. Beberapa hari, beres. Kedua, agar biaya cetaknya murah, karena buku kecil dan tipis. Ketiga, agar harga jualnya murah, sehingga pembaca tidak enggan beli. Sebab tujuan kita di karya pertama ini adalah memperkenalkan karya kita ke pembaca. Itu dulu targetnya. Urusan profit, itu nomer sekian. Yg paling penting dibaca oleh sebanyak mungkin pembaca.

Lalu saya desain cover. Karena gak bisa Photoshop atau Coreldraw, saat itu juga belum banyak aplikasi2 desain seperti saat ini, saya desain cover pake Microsoft Word. Parah banget kan? Tapi gak apa-apa, asal jadi. Sekarang sih gampang, pake aplikasi Canva atau yg lain, kita semua bisa mendesain cover buku dg sangat mudah.

Lalu saya cari percetakan terdekat, tanya2 harga. Habis itu saya cetak brosur, sebar ke sekolah, kampus, dan pesantren. Saya buka pre-order, sebagian bayar di depan, lumayan buat tambahan modal cetak. Sebagian saya tawarkan ke distributor buku untuk diedarkan di Gramedia dan toko buku besar lain.

Dari proses itu akhirnya saya benar2 tahu alur penjualan buku seperti apa. Sehingga saat saya kirim naskah ke penerbit besar, saya benar2 paham, gimana sih alur dari naskah kita. Biaya cetak berapa. Bagi hasil dg toko buku seberapa besar. Potensi pasarnya seperti apa. Dll.

Dg melalui proses ini, minimal kita tahu prosesnya saat naskah kita sudah lolos di penerbit besar. Bahkan bisa-bisa kita kecanduan nerbitin buku, akhirnya efek sampingnya, selain jadi penulis, kita juga bisa punya penerbit buku sendiri.

Ingat ya, tulis buku yg ringan, tipis, dan murah. Ketika buku anda ini ringan, tipis, dan murah, orang lain tak enggan untuk membelinya. Setelah tersebar, baru karya anda mulai dinikmati banyak orang. Setelah nama anda mulai dikenal masyarakat, baru target anda berikutnya adalah menulis buku yang lebih tebal, serius, dan berbobot.


Yuk, segera action. Semoga Allah memudahkan jalan kita untuk belajar dan berbagi manfaat. Aamiin..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..



Ilmu baru lagi buat kita, semoga dengan sharing kepenulisan ini, kita semakin giat belajar dan khususnya Kak Fai maupun Kak Rasyid bisa mendapat balasan pahala kebaikan. Aamiin Yaa Allah.


Posting Komentar

1 Komentar

Anonim mengatakan…
SEMANGAT KAMU !!!