Waktu itu tepatnya siang hari sehabis dhuhur, semua kelas XII suatu SMK harus melaksanakan ujian penjajakan atau yang lebih dikenal dengan Try Out. Try Out ini adalah yang kedua kalinya.
Saat itu udara sangat panas dan matahari nampak bernyinar dengan terangnya. Namun, apa mau dikata seperti yang sudah seharusnya bagi semua siswa wajib berangkat.
Lusi, ia biasa dipanggil,
sedikit malas untuk melangkahkan kakinya ke sekolah. Ia mempelajari semua materi karena Try Out yang akan dikerjakan adalah materi bahasa indonesia. Jadi mau tidak mau Ia harus membaca rangkaian kalimat dalam soal.
Sebenarnya ia mau agar Try Out diadakan pagi hari saja, tapi sayang ketentuan sekolah tidak bisa di ganggu gugat.
Setelah jam berdenting menunjukan pukul 12.00 WIB, ia segerakan melaksanakan shalat dhuhur. Setelah itu, Lusi bergegas menyiapkan segala keperluannya termasuk senjata andalannya yaitu pensil bukan contekan loh yah??? hehhe
Tepat setengah satu ia masih duduk – duduk di kamar sambil memandang ke luar jalan lewat jendela. Kebetulan kamarnya ada di lantai dua dekat jalan dan orang – orang yang berlalu lalang.
Ditunggunya teman yang biasa berangkat bersama dengan Lusi. Dan memang sudah janjian akan berangkat bersama. Tapi sayang, sudah jam satu kurang seperempat temannya itu belum juga datang.
Tiba – tiba HP-nya bunyi. Ternyata ada SMS dari Cika yang tak lain adalah teman Lusi yang sedang dinantikan. Begitu Lusi membaca SMS itu, deg...
Jantungnya langsung berdetak hebat, karena Cika baru mengabarkan kalau dia diantar oleh ayahnya karena tidak ada angkot...
Lusi langsung ngomel – ngomel sendiri. Coba bayangkan Try Out dimulai jam satu siang, sementara jarak sekolah dan rumahnya cukup jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki ditambah lagi waktu sudah menunjukan 12.50. Itu artinya tersisa 10 menit untuk sampai disekolah.
Dengan terburu – buru Lusi berangkat menuju sekolah. Segala rasa panas dan gerah yang dirasakan di siang yang terik tak digubrisnya.
Tak diduga saat ia mulai berjalan dan mengotak – atik HP-nya, sudah berdiri seorang cowok yang juga berseragam sekolah berjalan di sampingnya. Rupanya Lusi tak sadar bila ada orang yang berjalan di belakangnya tadi.
Lalu cowok itu dengan PD nya mengajak Lusi berkenalan..
“Hah, apa nih yang harus aku jawab. “ pikirnya dalam hati.
Segera Lusi membalas sapaan cowok itu. “ Iya boleh”. Dan diraihnya tangan cowok itu sebagai tanda perkenalannya.
Si cowok itu memulai pembicaraan. “ Nama kamu siapa?”
“Aku Lusi.” Jawabnya dengan rasa antara takut dan deg-degan.
“Owh iya, salam kenal Lusi, Aku Adit.”
Yah, cowok tinggi dengan tubuh kurus berseragam pramuka itu bernama Adit.
Mereka berjalan bersama menuju sekolah sambil bercerita satu sama lain. Sekolah Adit bersebrangan dengan sekolah Lusi istilahnya tetanggaan hehe.
Tapi Lusi sedikit gugup k arena ia malu dan juga takut terlambat ke sekolahnya karena niatnya buru-buru malah harus ngobrol sama orang yang baru dikenalnya (baginya ini adalah bentuk menghargai teman baru).
Waktu berjalan, cowok itu mulai mewawancai Lusi dengan bertubi-tubi pertanyaan yang seakan-akan dia adalah petugas sensus dan sudah seperti orang mau bikin KTP saja 👀☺.
Sampai pada akhirnya pertanyaan pamungkas keluar juga dari yang namanya anak cowok.
Sampai pada akhirnya pertanyaan pamungkas keluar juga dari yang namanya anak cowok.
“Lus, boleh gak aku minta nomer HP kamu?” Rayu Adit
Deg...
seketika itu di otak Lusi berkecamuk banyak jawaban.
“ Aduh, apa nih yang mesti aku jawab. Mana mungkin aku ngasihin nomor HP aku sama orang yang baru akau kenal. Maaf Yaa Allah jika aku harus bohong.” Bisiknya dalam hati.
seketika itu di otak Lusi berkecamuk banyak jawaban.
“ Aduh, apa nih yang mesti aku jawab. Mana mungkin aku ngasihin nomor HP aku sama orang yang baru akau kenal. Maaf Yaa Allah jika aku harus bohong.” Bisiknya dalam hati.
Lusi mencoba membalas pertanyaan Adit.
“Ehmmm.. maaf Dit, aku lagi tukeran nomor sama temen aku.
Jadi kamu aku kasih nomernya temen aku aja yah?” (Lusi menjelaskan sedikit gugup) dan terpaksa harus bohong.
“Iya gak papa.” Jawab Adit.
Lusi mulai mengdiktekan nomor ponsel temannya. Tanpa pikir panjang saat ia membuka kontak HP-nya dan ditekannya awal huruf “E” dan langsung Lusi memberi nomornya Erni. Erni adalah teman dekat Lusi ejak SMP.💆☺
Dn dari kejadian ini lah, Erni yang jadi korban teror Adit setiap hari heheh. Parahnya lagi Lusi gak minta izin dulu ke Erni utuk kasih nomornya ke Adit.
Lusi spontan aja ngasih karena kepepet udah bohong heheh.
Lanjut,
Mereka saling bertanya alamat rumah, sekolah, jurusan dan angkatan kelas.
Lalu setelah sampai di pertigaan jalan, mereka harus berpisah.
Lusi saat itu benar – benar harus berjalan secepat mungkin untuk mengejar waktu. Dan tepat sekali, saat ia sampai di gerbang sekolah bel tanda Try Out masuk dimulai.
Ia lari sejadi – jadinya menaiki anak tangga untuk menuju ke gedung lantai dua sekolahnya.
Diletakknya tas hitam di teras kelas, lalu ia memasuki kelas yang sudah berdiri pengawas yang mesti disalami terlebih dulu.
Lusi lalu duduk di daftar nomor ujian Try Outnya. Ia merasa kini badannya bercucuran keringat. Pengawas mulai membagikan soal dan lembar jawab ujian nasional. Lusi perlahan mengisi data dirinya pada selembar kertas putih itu lalu dihitamkan tiap – tiap lingkaran huruf dan angka sesuai data dirinya.
Lembar soal bahasa indonesia pun dibagikan. Dengan membaca lafadz basmallah, Lusi memulai membaca soal demi soal. Tapi, perkenalan dengan cowok tadi rupanya membuyarkan konsentrasi Lusi.
Setiap Ia membaca cerita, teringat terus dengan wajah Adit.
Setiap Ia membaca cerita, teringat terus dengan wajah Adit.
Sampai akhir soal pun Ia tetap dibayang – bayangi wajah Adit cowok yang baru dikenalnya. Maklum saja, Lusi bukan tipikal cewek yang mudah ngobrol sama lawan jenisnya. Dia menjaga baik perasaan dan tingkah lagu walaupun sudah seusia remaja SMA pada umumnya. Tapi ia sangat pemalu, apalagi perihal rasa dan hubungan.
“ Ya Allah, aku harap Try Out kali ini, aku bisa mendapat nilai lebih baik dari yang kemarin. Aku mohon Ya Allah hilangkan wajah cowok itu di pikiran aku.” Lusi bercerita sendiri dalam hati.
Bell akhir Try Out berbunyi, buru – buru Lusi memeriksa semua kelengkapan data dan jawaban. Lalu semua siswa berhamburan keluar.
Bell akhir Try Out berbunyi, buru – buru Lusi memeriksa semua kelengkapan data dan jawaban. Lalu semua siswa berhamburan keluar.
Saat perjalanan pulang bersama Cika, ia menceritakan semua kejadian yang baru saja menggangu pikirannya kepada sahabat karibnya itu.
Dan Cika hanya senyam – senyum menanggapi ocehan Lusi tentang si Adit. Ia justru mendukung aku agar semakin dekat dengan Adit.
Dan Cika hanya senyam – senyum menanggapi ocehan Lusi tentang si Adit. Ia justru mendukung aku agar semakin dekat dengan Adit.
Sebenarnya Lusi memang sulit menghilangkan bayang – bayang Adit untuk beberapa waktu yang cukup lama. Bahkan ketika sampai di rumah, Lusi di SMS-in sama Erni. Erni menyampaikan pesan “ Lus, tadi ada nomor baru katanya Adit cowok yang tadi siang ngajak kenalan kamu. Kamu ngasih nomor aku sama dia apa?”
Sontak Lusi kaget, Ia tidak menyangka kalau Adit secepat itu mangabari keadaannya.
Dengan berbagai alasan agar Erni tidak marah pada Lusi, dia mulai berkelit,
“ Hehe..maaf ya Er, tadi aku di jalan kenalan sama cowok namanya Adit. Dia minta nomor HP-ku. Aku bingung harus jawab apa, tanpa pikir panjang aku bilang kalau nomor aku lagi tukeran sama temen. Terus aku ngasih nomor kamu ke dia. Aku reflek aja Er, pas mejet tombol kontak hape, aku teken huruh “E” dan kebetulan daftar yang paling atas kamu. Hehe..
Maaf banget ya sobat, kamu jadi keganggu deh.” Jawab Lusi kepada Erni.
Dengan berbagai alasan agar Erni tidak marah pada Lusi, dia mulai berkelit,
“ Hehe..maaf ya Er, tadi aku di jalan kenalan sama cowok namanya Adit. Dia minta nomor HP-ku. Aku bingung harus jawab apa, tanpa pikir panjang aku bilang kalau nomor aku lagi tukeran sama temen. Terus aku ngasih nomor kamu ke dia. Aku reflek aja Er, pas mejet tombol kontak hape, aku teken huruh “E” dan kebetulan daftar yang paling atas kamu. Hehe..
Maaf banget ya sobat, kamu jadi keganggu deh.” Jawab Lusi kepada Erni.
Erni, lalu mengajak Lusi ketemuan di rumahnya.
Mereka akhirnya bertemu dan membahas masalah tadi. Erni memulai percakapan “Lus, nih anak cowok itu katanya minta nomer kamu. Dikasih apa nggak? katanya cuma buat SMS-an aja gak ada tujuan lain.”
“Tapi Er, aku risih masa baru kenalan udah tanya – tanya kaya petugas sensus aja.”Jelasnya pada Erni.
“Udah ga papa, lagian cuma pengin kenal kamu kan. Barang kali dia jodoh yang dikirimkan Tuhan buat kamu hehe..”. Ledek Erni kepada Lusi.
“Ih, apaan sih Er.!! Ya udah tolong kamu kasih nomor yang aku pakai ini ke Adit.” Lusi mulai kasihan kepada Adit yang terus menerus menanyakan nomornya kepada Erni.
“Nah, gitu donk teman. Barang kali dia baik dan hanya ingin lebih dekat dengan kamu aja. Lagian sekarang kamu lagi jomblo kan heheh...” Ejek Erni.
Lusi hanya menghela nafas ringan sembari melempar senyum ke arag Erni.
Selang beberapa jam. Terdengar bunyi ringtone SMS masuk. Lusi mulai membuka HP-nya. Ternyata yang SMS nomor baru dan itu adalah Adit.
Lusi cukup senang mendapat SMS dari Adit. Hingga malamnya mereka berdua SMS-an sampai tak kenal waktu. Ya, jam sudah menunjukan 22.00 WIB, tetapi mereka tetap asik saling balas SMS.
“Ternyata Adit orangnya cukup menyenangkan buat berbagi cerita.” Ucap Lusi
Lusi terus di SMS-in sma Adit. Lama kelamaan Lusi menjadi terganggu karena ia juga harus belajar untuk persiapan ujian nanti. Dua minggu Lusi tidak membalas dan merespon SMS Adit yang intinya Adit mengajak ketemuan di taman.
Lusi semakin jengkel dengan Adit yang siang malam SMS dan Misscall. .Kebanyakan pulsa dari seluler kayaknya heheh.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk membalas SMS Adit. “Adit maaf, aku bisa baru bales SMS kamu. Kalau kamu ngajak ketemuan aku, maaf gak bisa. Kita cukup SMS an aja.” Aku coba menerangkan.
Bagaimana Lusi tak kecewa, Adit yang sempat di harapkan Lusi ternyata juga menggoda Erni temannya dan juga mengajak kencan malahan. Lusi merasa Adit memang gak bisa dipercaya. Lusi tau hal ini dari Erni langsung. Karena Erni merasa Adit mau mempermainkan Lusi.
Akhirnya Adit kini tak mengirim SMS so care nya pada Lusi. Mungkin ia menyerah karena Lusi tidak mau diajak ketemuan.
Tapi, disisi lain Lusi merasa senang karena bisa kembali berkonsentrasi dalam mempelajari materi Ujian Nasional tanpa dibayang – bayangi oleh wajah Adit.
Tapi jauh di hati Lusi, merasa tidak enak dengan Adit. Tapi mau apa lagi Adit juga bersikap sama rata ke semua temen ceweknya. Gak tau sampai kapan Adit akan memberi kabarnya kepada Lusi.
Yang terpenting bagi Lusi, ia telah mengenalnya sebagai cowok yang gentle karena bisa berkenalan secara langsung.
Sampai endingnya, mereka tak komunikasi lagi karena Lusi nomornya keblokir. Dan akses Adit untuk bisa ngobrol lebih intens dengan Lusi pun menghilang begitu saja.
Mungkin ini yang namanya ujian disaat ujian sekolah pun ada di depan mata. Bagaimana persaan yang kacau bisa membuat segala kiat belajar jadi tidak beres. Alhamdulillah Lusi bisa melaksanakan ujian sekolah tingkat SMK nya dengan lancar dan mendapatkan nilai yang memuaskan.
Purwokerto, 24 April 2015
Lilis Setiani (10 :16 wib)
Lilis Setiani (10 :16 wib)
Peewww,, Gua sanggup melewatinya. :) :)
Kisah seminyata, penulis :)





0 Komentar