Hujan Penyambut Tamu

Subscribe Us

Advertisement

Hujan Penyambut Tamu

𛲠𛲡𛲢۝

 _🔏Sebua tempat di belahan bumi bagian timur, yang tidak akan bisa dilupakan. Sebuah bangunan megah berderet dan saling memiliki kesamaan struktur, bagian depan, samping, dan belakang, ditambah pohon-pohon hijau untuk pemancing oksigen datang. Tepat saat itu, kebohongan yang dirasa "maklum" baru saja terjadi. Niat hati mengatakan ingin masuk perguruan tinggi. Namun, kenyataannya seorang mengejar mimpi yang menggegas keluar dari jeruji ketidakramahan melakukan tindakan "jalan saja dulu" sampai menemui titik temu. Sampai seorang menuturkan alasan secara tiba-tiba kepada seorang oma tua di daerah elit yang bernama Ibu kota.


𛲠𑂽𛲡𛲢
_🔐Seorang itu, menemui sosok juang yang patut diteladani. Berbekal dukungan saudara dan sekeliling kepala, seorang bermaksud menjemput nasib yang lebih baik. Tibalah penyambutan itu datang, satpam jadi penjawab tanya saat hati bimbang, alamat di tegaskan, motor lalu diparkirkan dan menunggu jadi momen paling mendebarkan sekaligus mengesankan.

𑂽𛲠𛲡𛲢

_🔑Sesaat berlalu, jam, jalan, debu alam, keringat badan seolah lenyap tanpa tanda sebab ketika hujan turun yang mengguyur dengan hebatnya menawarkan bau aspal panas ber-aroma hangat perlintasan. Posisi masih sama, duduk dan berulang kali berdiri menghindari cipratan air dingin yang mulai tersingkir ke area teras tempat menunggu. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, memakai baju kemeja biru dan berkacamata, sosok yang ditunggu menjelma menjadi penyambut tamu. Sosok yang keramahannya patut di contoh, pula dalam meraih posisinya seperti saat ini. Beliau adalah Lik yang masih ada garis saudara. Hanya, rentang usia saja yang baru sempat mengenal secara langsung kala itu. Seorang berkemeja tersebut tau seorang lagi melalui cerita di waktu kecilnya.


𑂽𛲠𛲡𛲢
_🔗Mempersilahkan kami masuk, namun seorang yang bertamu tersebut masih menikmati hujan sore  itu, menjeda langkah dan menahan sebuah percakapan santai. Segelas kopi hangat untuk tiga orang yang mengobrol di suguhkan. Seorang yang berjuang tersebut berhasil masuk dalam mimpi dan cerita hidup disana selama 2 bulan lamanya. Diterimanya dengan tangan terbuka, didiknya seorang seperti masih anak baru berkelana. Memang itu kesan utamanya. Ternyata, sepatu hitam yang dipakai seorang berkemeja kantor itu, rela dilepaskannya untuk bersama dalam lesehan lantai di tepi teduhnya hujan. 



󠀧𑂽𛲠𛲢𛲢
_🔆Mereka bercerita, mengalir bagai air yang juga menyita mata, mendinginkan suasana. Semoga pada cerita tiga tahun lalu, menjadi lembaran yang akan terus dikenang oleh pena dan pikiran kita. Bagaimanapun juga, tempat baru, orang baru dan perasaan baru adalah keharusan manusia larut didalamnya. Kita tersebut terjadi sebagai "Adaptasi". Semoga sukses untuk seorang berdasi disana, semoga berkah untuk seorang yang mengendarai dan semoga kuat untuk seorang yang selalu berjuang pada tempat yang berubah-ubah di permukaan bumi ciptaan-Nya.

13/‎01/‎2016, ‏‎21:50:16


Jakarta, 19 September 2019
08:37 WIB



Lilis Setiani

#Semusim desember 2016

Post a Comment

0 Comments