Hampir sepenuh hati merindukan suasana ini. Ladang yang rindang, padi yang terhampar, kesejukan yang silih berganti datang, ilalang yang tumbuh sembarang, dan semangat pagi yang terus saja sukarela tersandar. Pematang sawah memang tak pernah sejajar rata. Ada gundukan empang yang menyekat tiap-tiap jalanan panjang disana. Tentang liar, terkadang ada sepucuk bunga tumbuh yang enggan menghilang. Tentang redup cahaya matahari pagi, ada saja yang dibuatnya mengerti tentang ketenangan dan dalamnya perasaan.
Bersyukur, tepat di tengah padi yang belum matang, tersembunyi bulir yang menghidupkan manusia. Biarkan saja, daunnya semakin hari kian menguning. Hasilnya tetap saja penting bagi bumi. Ada daun coklat yang terjatuh, terinjak, terhempas kian kemari. Berteduh diantara sekelompok petak berbentuk segi panjang melingkar. Dialiri air bening, dingin bersuara rintih. Itu makhluk yang tidak bisa berproduksi tapi mampu memberikan kebutuhan bagi produsen bernama "manusia" untuk melakukan produktivitas jangka lama.
Sebuah jepretan tidak hanya satu dua kali, menjadi bukti ada situasi yang perlu di simpan untuk nanti. Disana tertinggal tanah berlumpur menghitam, tapi sangat menyuburkan. Disana tersemat serangga-serangga berbau tajam, tapi meramaikan alam. Disana tertambat warna kuning kelayuan pada sosok langit, tapi menciptakan nyaman.
Mungkin, ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Mencari kedamaian dari alam untuk melangsungkan ketergantungan turun temurun. Sebuah moment yang manis, saat jari-jari tanpa kaos kaki, sendal, sepatu dan alat lainnya bercampur dengan ramahnya tanah, humorisnya gemericik air dan siulan burung asing bertebaran di atas awan.
Suatu saat nanti, dimana kita kembali, disanalah tangan terbuka, pikiran berkata ," Terimakasih, aku sempat singgah walaupun tidak seluruhnya pernah dimiliki."
Setidaknya, nyaman adalah fenomenal yang patut di perjuangkan, bahkan oleh berkorban-korban perasaan dan sepenuh jagad raya.
![]() |
| Suatu tempat di Bogor, pada Minggu, 19-08-2019 |
Jakarta, 16 Spetember 2019
13:28 WIB
Lilis Setiani


0 Comments