Subscribe Us

Responsive Advertisement

Advertisement

Post 2 Pendakian Mt.Cikuray PART 5



#POS2 PENDAKIAN Mt.Cikuray PART 5

Lanjut perjalanan ke pos2. Kita melakukan perjalanan kembali. Kali ini, tanahnya gak terlalu tajam seperti diawal. Ada landainya yang bisa kita pakai buat rehat sebentar. Tapi, Novi?

Dia masih belum stabil nafasnya, seperti yang gua bilang tadi, kabut diatas mengakibatkan jalan menjadi licin. Novi yang pakai sepatu biasa agaknya kesulitan buat jalan di tanah yang seperti ini. 

  • Dan akhirnya, kita berhenti sejenak. Novi melepas sepatunya dan berganti dengan sendal gunung. Ini lebih nyaman dan aman sepertinya.

Masih di tahap awal, signal sudah angot-angotan. Tapi momen perlu diabadikan.
Dan kalian tau gaes... 


Jarak dari pos1 ke pos2 itu jauh bet, jauh sekali. Kaya terusan suez kali yah. 😍😍😍😍SERIUSAN?? gua gak bohong. Beneran jauh banget.

Sampe gua dan Novi yang pengin banget buru-buru ke sampe pos, tiap perjalanan selalu tanya ke bang Jes dan lainnya. 
“Pos 2 udah deket belum di bang”? dan begitu terus selanjutnya.
Dan maaf bang Jes, kita yang newbie sering kali merepotkan. JaraK 5 meter berhenti, istirahat. Jalan lagi, baru 2 meter minta istirahat dan seterusnya. 
  • Tapi untunglah, Bang Jes ini sangat SABAR...
Hasil gambar untuk ORANG NAHAN SABAR
google.com

“Istirahat aja dulu, jangan dipaksa, Nov,Lis. Kit juga nunggu kalian kok, gak bakal di tinggal.” 

Dengan nada bijaknya gitu, berasa adem dan pengertian. 😍😍

Dalam perjalanan ini, emang gua dan Novi yang paling parah kondisi badannya. 
Pas di pos ini, gua lumayan bisa jalan pelan-pelan. Dan Novi sampai di support terus sama Bang Jes di barisan belakang. 

Kita memutuskan buat istirahat lama, Novi juga dibuatkan tracking pole dari batang pohon sama Bang Jes buat pijakan ke tanah.
Gua juga minum dan sesekali rebahin badan ke tanah. Bener-bener moment itu priceless banget.


Untuk sampe di pos 2 ini tanaga habis banyak. 
Gerimis tiba-tiba turun, mantel dikeluarkan dari tas, setelah itu gerimis berhenti. Terus kabut gantian menyambut rombongan kami. Sesuatu yang sudah terlanjur di lewati sampai sejauh ini. 

Indah, Bang Il, Irfan masih normal melakukan pendakian. Bang Jes yang selalu sigap mewanti-wanti kita buat semangat. Dan gua sampai buka sepatu buat jalan kedepan, karena gua pikir sepatu ini agak memberatkan, walaupun sudah di nasehati bang Jes, jangan dilepas sepatunya. Tapi gua kekeuh dilepas. Sampai akhirnya dingin udara masuk semua ke Badan. Gua pikir akan bertambah baik, eh justru sebaliknya.😭😭😭😭

Dan hal konyol nya saat gua melakukan perjalanan telanjang kaki, ada aja rombongan pendaki lain yang iseng dan lontarin ledekan
“Mbak kok gak pakai sepatu. Kasihan kan kakinya. Nanti surga buat anak-anak kita gimana?”
Seketika itu rombongan pendaki yang lagi rehat ketawa semua.

Hasil gambar untuk ketawa ngakak

 Ini nih serunya nanjak sama deretan gombalan-gombalan receh yang bisa isi amunisi semangat antar pendaki. Dan gua pun jadi korbannya. Gua gak mau kalah donk, pokoknya kalau di jalur itu semua saudara, gua balesin aja 

“Iyah bang, biar Surganya bisa nginjek BUMI PERTIWI”..wkwk
Dan makin rame lagi sorakan rombongan lainnya. Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan dengan pesan masing-masing memberikan semangat, 
“Hati-hati mbak, semangat !!!”.
“Iyah, duluan bang.”
Dan seperti itu selanjutnya bila kita berpapasan dengan pendaki lainnya yang satu tujuan.



Entah berapa jauhnya pos 1 ke pos 2, dari jam setengah sepuluh sampai jam 12 siang kita sampai di pos 2. Adzan masih terdengar. Gua, Indah, Novi dan Irfan shalat dhuhur bergantian sembari mengistirahakan badan di POS 2.




Hal. 6



Posting Komentar

0 Komentar